PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan tempat tinggal bagi warga terdampak gempa bumi tektonik di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam konferensi pers yang digelar di Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka, Selasa (18/8/2026), BNPB mengumumkan skema bantuan perbaikan rumah serta dana hunian agar masyarakat tidak terlalu lama bertahan di tenda pengungsian.
Proses pendataan kerusakan bangunan mulai berjalan sejajar dengan penanganan tanggap darurat. Pemerintah menyiapkan bantuan stimulan stimulan sebesar Rp15 juta untuk rumah rusak ringan (RR) dan Rp30 juta untuk rumah rusak sedang (RS). Dana tersebut akan disalurkan langsung ke rekening penerima dan diprioritaskan untuk pembelian bahan bangunan.
“Lebih cepat lebih baik agar warga bisa segera bergeser kembali ke rumahnya. Dana bantuan akan ditransfer ke rekening warga, namun pengambilannya harus dipastikan untuk belanja material bangunan,” ujar Suharyanto.
Sementara bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat (RB), pemerintah menyiapkan dua opsi selama masa pembangunan hunian tetap (huntap),
bantuan sewa senilai Rp 600.000 per bulan yang dibayarkan sekaligus untuk 3 bulan (total Rp1,8 juta) bagi warga yang memilih menumpang di rumah kerabat.
Opsi berikut yakni pembangunan huntara mandiri atau komunal di lahan milik warga maupun lokasi yang disepakati jika tidak memiliki kerabat penampung.
Selain fokus pada pemukiman warga, pemulihan fasilitas publik juga dibagi lintas kementerian. Kementerian PU menangani jalan, fasilitas pendidikan, dan gedung pemerintahan, sementara fasilitas ibadah akan direhabilitasi oleh Kementerian Agama. BNPB juga bersiap menyalurkan tenda sekolah darurat serta rumah sakit lapangan jika dibutuhkan.