Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia menyentuh jantung legitimasi sebuah hasil pertandingan. Sebab dalam olahraga, sebagaimana dalam hukum, keabsahan sebuah keputusan tidak hanya diukur dari hasil akhirnya, tetapi juga dari proses yang mengantarkannya. Dan proses itulah yang kini dipersoalkan.
Kemenangan yang Dipertanyakan: Untung atau Buntung?
Publik dengan cepat menyimpulkan: Persami diuntungkan. Mereka melaju ke final, panggung yang belum pernah mereka pijak sebagai juara sepanjang sejarah keikutsertaan di Soeratin Cup. Secara administratif dan di atas kertas, itu adalah kemenangan yang sah, hasil dari keputusan resmi wasit yang berwenang mengesahkannya.
Namun menyederhanakan persoalan ini hanya sebagai “untung” adalah sebuah kekeliruan analitis. Sebab jika kita menimbang dengan lebih jernih, kerugian yang ditanggung Persami justru jauh lebih dalam dan lebih lama umurnya dibanding satu tiket final.
Pertama, kerugian legitimasi. Dalam politik maupun olahraga, kemenangan yang diraih di tengah kontroversi jarang membawa mandat yang utuh. Persami melangkah ke final bukan dengan sorak-sorai kemenangan murni, melainkan dibayangi tanda tanya publik tentang keabsahan hasil tersebut. Ini adalah beban psikologis dan sosial yang tidak dialami Perse Ende, lawan mereka di final, yang melangkah dengan kepala tegak setelah kemenangan yang tak terbantahkan.
Kedua, kerugian reputasi dan kepercayaan. Status sebagai tuan rumah, alih-alih menjadi kebanggaan, kini berubah menjadi senjata makan tuan. Narasi liar berkembang di ruang publik bahwa kemenangan Persami “dibantu” oleh faktor non-teknis yakni wasit dan panitia penyelenggara, bukan oleh kualitas permainan semata. Ini adalah pukulan telak bagi martabat sebuah tim. Sebab dalam olahraga, sebagaimana dalam politik, opini publik adalah kekuatan yang tak kalah menentukan dibanding hasil resmi di atas kertas. Sekali kepercayaan terhadap kualitas dan integritas sebuah tim retak, ia tak mudah direkatkan kembali walaupun betapapun gemilang performa mereka di final nanti.
Ketiga, kerugian filosofis. Ada sebuah paradoks yang layak direnungkan: apa gunanya kemenangan jika ia tak lagi murni disebut sebagai buah dari kerja keras dan kualitas permainan? Filsafat olahraga mengajarkan bahwa kemenangan sejati lahir dari keunggulan yang diakui bukan hanya oleh papan skor, tetapi juga oleh rasa hormat lawan dan publik. Ketika keunggulan itu dipertanyakan, kemenangan berubah menjadi beban, bukan kebanggaan. Persami menang, tetapi mereka kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar satu laga: pengakuan tanpa syarat atas kualitas timnya.