
Mengakhiri Sesi Belajar Siang
Kehadiran tiga ruang kelas baru ini menjadi solusi krusial bagi permasalahan operasional di SMAN Kangae. Dewan Pembina Yayasan Bapa Bangsa, Januarius Goleng, mengungkapkan bahwa kondisi sarana belajar di sekolah tersebut sebelumnya sangat memprihatinkan sehingga pihak sekolah terpaksa membagi jadwal belajar siswa menjadi dua sesi (pagi dan siang).
“Saat kunjungan kerja reses Bapak Melchias beberapa waktu lalu, beliau melihat langsung kondisi kelas yang memprihatinkan. Keterbatasan ruang membuat pembelajaran harus dibagi dua shift. Dengan selesainya pembangunan ini, mulai Senin mendatang seluruh siswa sudah bisa masuk pagi secara serentak. Jadi, tujuan pembangunan ruang kelas ini untuk memenuhi kekurangan ruang kelas yang selama ini dialami oleh murid di SMAN Kangae,” ungkap Januarius.
Ia menambahkan bahwa sejak berdiri pada 2009, Yayasan Bapa Bangsa terus menjembatani aspirasi masyarakat di berbagai bidang, mulai dari air bersih, pertanian, kesehatan, hingga infrastruktur sekolah, bekerja sama dengan berbagai pihak penyalur sponsor tanpa membatasi kuota target.
Dorong Digitalisasi dan Budaya Merawat
Pendiri sekaligus Penasehat Yayasan Bapa Bangsa, Melchias Markus Mekeng, menegaskan pentingnya keseimbangan antara kesiapan tenaga pengajar, semangat siswa, dan kelayakan sarana-prasarana untuk menciptakan mutu pendidikan yang unggul.
“Tiga elemen utama sekolah, guru, murid, dan sarana-prasarana, harus menjadi satu kesatuan. Nah, sekarang kalau guru-guru sudah cukup di sini, sekarang saya siapkan sarana dan prasarananya. Nah, setelah itu muridnya pun harus mulai didik untuk mau maju untuk ikuti zaman, zaman udah zaman digitalisasi, dan juga yang pasti mereka harus merawat ini sekolah,” ujar Melchias Markus Mekeng.