Menelusuri Sejarah Yapenthom Maumere: Buah Pemikiran Raja Don Thomas untuk Kemajuan Pendidikan di Sikka

"Gagasan mendirikan Yapenthom berawal dari pengalaman, kunjungan kerja ke Pulau Jawa, serta hasil pertukaran pikiran Raja Don Thomas dengan sejumlah tokoh pejuang nasional. Berangkat dari keinginan kuat untuk memajukan rakyat Kabupaten Sikka di bidang pendidikan, ia memulai langkah awal dengan berdiskusi bersama tokoh masyarakat dan para guru di Lela—yang kala itu menjadi basis elit pendidikan".
Foto Raja Don Thomas dan Logo Yayasan Pendidikan Thomas Maumere.

Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) mulanya menempati kompleks kediaman Raja. Pada tahun 1952, sekolah berpindah ke gedung baru (sekarang menjadi Biara Susteran SSpS), sebelum akhirnya menempati lokasi permanennya sejak tahun 1954 hingga sekarang.

Kolaborasi dengan Gereja dan Deretan Pengajar Perintis

Guna memastikan kualitas KBM, Raja Don Thomas menjalin kerja sama erat dengan Gereja Katolik. Beliau mendatangkan tenaga pendidik dari Kongregasi Suster-Suster Abdi Roh Kudus (SSpS), di antaranya Suster Resignata, Suster Lidwina, Suster Anselma, Suster Guitmara, dan Suster Emanuel.

Sejumlah tokoh dan guru luar biasa juga tercatat menjadi pilar penggerak Yapenthom pada masa-masa awal, seperti:

Suster Petrosa CIJ
Pater Scholte SVD
Pater Donkers SVD
J. Ch. Jeremias Parera
Tarsisius da Rato
Th. M. Sogo Chynde
Stanislaus Bao
St. Osisi da Lopez
Nikolaus Daniel Naging
Pater Josef da Silva SVD
Pater Robert Rewu SVD

Dinamika dan Tantangan Perjuangan

Perjalanan Yapenthom tidak lepas dari berbagai dinamika politik dan tata kelola keuangan. Salah satu tantangan terbesar terjadi ketika Pemerintah Daerah Flores dan KPS Maumere mengeluarkan perintah untuk menghentikan pungutan retribusi kopra yang selama ini menjadi dana penyokong Yapenthom. Keputusan tersebut membuat keuangan yayasan menipis dan merintangi sejumlah rencana pembangunan lembaga pendidikan.

Tantangan juga datang pada dekade 1950-an. Pada Januari hingga Februari 1953, sempat terjadi aksi demonstrasi anti-Yapenthom oleh kelompok yang menamakan diri Kanilima. Namun, aksi ini diimbangi oleh kontra-aksi dari kelompok masyarakat yang konsisten mendukung kebijakan dan perjuangan Raja Don Thomas.

Kini, warisan sejarah Yapenthom tetap berdiri tegak sebagai bukti nyata dedikasi dan visi jauh ke depan dari Raja Don Thomas da Silva dalam membangun peradaban lewat jalur pendidikan di Kabupaten Sikka.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler