Fakta Persidangan: Keterangan Saver dan Vinsen saling bertolak belakang. Bahkan, Vinsen membantah keterangan cucunya sendiri (Rovin).
Urgensi Lie Detector: Alat ini sangat dibutuhkan untuk merekam kejujuran para pelaku dan menghapus keraguan mendalam yang dirasakan oleh ibu korban serta penasihat adat 10 suku.
“Selama saya menjadi kuasa hukum, baru kali ini saya melihat sesama terdakwa saling membantah keterangan dengan begitu frontal. Menghukum orang yang salah itu merusak sistem. Lebih baik membebaskan 10 orang penjahat daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah. Jika mereka memang jujur tidak bersalah, buktikan. Jangan merusak sistem hukum kita,” tegas Viktor.
Misteri Rekaman WhatsApp dan Tuntutan Digital Forensik
Selain lie detector, Tim Kuasa Hukum juga mempertanyakan tidak dilibatkannya digital forensik secara mendalam sejak awal penyidikan. Padahal, korban, pelaku anak, maupun ayah pelaku semuanya diketahui menggunakan telepon pintar (smartphone) berbasis Android.
Kuasa hukum menyoroti adanya dua penyampaian rekaman pesan WhatsApp di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) anak yang diklaim hanya bersumber dari pengakuan sepihak pelaku, tanpa didukung bukti fisik digital forensik yang valid.
Asas Hukum: Keterangan terdakwa hanya berlaku untuk kepentingan pembelaan dirinya sendiri, bukan sebagai basis utama penyidikan tanpa dukungan alat bukti lain.