“Aku Telah Melihat Tuhan”: Jejak Panggilan dan Semangat Misi Diakon Roni Subun, SVD

Moto tahbisannya, “Aku telah melihat Tuhan” (Yohanes 20:18), menjadi refleksi spiritual yang mendalam dalam hidupnya. Moto tersebut mengandung makna iman yang kuat tentang pengalaman perjumpaan pribadi dengan Tuhan, yang kemudian menjadi dasar keberanian untuk melayani dan mewartakan kasih-Nya kepada sesama.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Maumere — Sukacita besar kembali menyelimuti Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero menjelang perayaan tahbisan diakon yang akan berlangsung pada Minggu, 31 Mei 2026 di Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero. Dalam momentum penuh rahmat tersebut, Frater Roni Subun, SVD bersama rekan-rekannya akan menerima tahbisan diakon melalui penumpangan tangan Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni.

Tahbisan diakon menjadi langkah penting dalam perjalanan hidup religius seorang calon imam. Bagi Frater Roni, peristiwa itu bukan sekadar seremoni Gereja, melainkan jawaban atas panggilan Tuhan yang telah ia perjuangkan melalui proses panjang pembinaan, pendidikan, dan pengabdian.

Frater yang memiliki nama lengkap Fr. Meni Subun, Febronius, SVD ini lahir di Kiupunu pada 25 Juni 1998. Ia berasal dari Paroki St. Mikhael Oelami, Keuskupan Atambua. Dalam kesehariannya, Frater Roni dikenal sebagai pribadi yang ramah, sederhana, dan memiliki semangat pelayanan yang kuat.

Baca juga: Idul Adha 1447 H Jadi Momentum Kebangkitan Persaudaraan, WHN Ajak Rakyat Indonesia Perkuat Solidaritas Sosial

Moto tahbisannya, “Aku telah melihat Tuhan” (Yohanes 20:18), menjadi refleksi spiritual yang mendalam dalam hidupnya. Moto tersebut mengandung makna iman yang kuat tentang pengalaman perjumpaan pribadi dengan Tuhan, yang kemudian menjadi dasar keberanian untuk melayani dan mewartakan kasih-Nya kepada sesama.

Perjalanan pendidikan Frater Roni dimulai di SDN Kiupunu pada tahun 2004 hingga 2010. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMPN Kiupunu dan kemudian menempuh pendidikan menengah di SMA Seminari Lalian Atambua pada tahun 2013 hingga 2017.

Lingkungan seminari menjadi tempat awal bertumbuhnya panggilan hidup religius dalam dirinya. Dalam proses pembinaan tersebut, Frater Roni dibentuk untuk hidup disiplin, bertanggung jawab, dan semakin mendalami kehidupan rohani.

Baca juga: KETIKA ROH KUDUS MENJANGKAU LERENG-LERENG SUNYI (Refleksi Pastoral atas Perayaan Pentakosta di Stasi Golo Wunis dan Watu Paci)

Pada tahun 2017, ia melanjutkan perjalanan panggilannya dengan memasuki Novisiat SVD St. Yosef Nenuk, Atambua. Masa novisiat yang dijalani hingga tahun 2019 menjadi tahap penting dalam pembentukan spiritualitas dan karakter hidup religiusnya sebagai calon misionaris Serikat Sabda Allah (SVD).

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler