Dalam kerangka yang lebih luas, pendidikan berperan membentuk masyarakat. Ia memperluas relasi sosial melampaui ikatan keluarga, membangun solidaritas, dan menciptakan struktur sosial yang memungkinkan kehidupan bersama. Tanpa pendidikan, manusia mungkin tetap hidup secara biologis, tetapi tidak akan berkembang sebagai makhluk sosial yang berbudaya.
Meski demikian, pendidikan juga tidak lepas dari kritik. Sebagian melihatnya sebagai bentuk pengkondisian yang membatasi kebebasan individu. Kritik ini tidak sepenuhnya keliru. Namun perlu dipahami bahwa justru melalui proses belajar yang selalu melibatkan pengaruh orang lain manusia memperoleh kemampuan untuk berpikir mandiri dan bertindak bebas. Kebebasan tidak muncul dari ketiadaan aturan, melainkan dari kemampuan memahami dan melampauinya secara sadar.
Di titik ini, relasi antarmanusia menjadi kunci. Manusia lain adalah “pendidik utama” bagi setiap individu. Dari relasi inilah lahir budaya, nilai, dan cara pandang terhadap dunia. Namun tujuan akhir pendidikan bukanlah budaya itu sendiri, melainkan manusia pribadi yang mampu berpikir kritis, berempati, dan bertanggung jawab.
Sayangnya, ideal ini menghadapi tantangan serius dalam konteks modern. Dalam arus neoliberalisme, pendidikan kerap direduksi menjadi alat ekonomi. Pengetahuan dipandang sebagai komoditas, sekolah sebagai pabrik tenaga kerja, dan keberhasilan diukur semata dari kesiapan memasuki pasar kerja. Akibatnya, dimensi reflektif dan humanistik pendidikan sering terpinggirkan.
Jika dibiarkan, arah ini berisiko mengubah manusia menjadi objek sistem, bukan subjek yang merdeka. Pendidikan kehilangan rohnya sebagai proses pembebasan dan justru menjadi mekanisme reproduksi ketimpangan.
Karena itu, sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada hakikatnya: memanusiakan manusia. Pendidikan harus menjadi ruang bagi tumbuhnya otonomi, daya kritis, empati, dan tanggung jawab sosial. Ia tidak hanya mempersiapkan individu untuk bekerja, tetapi juga untuk hidup bersama dan membangun masa depan yang lebih adil.
Menjadi manusia, pada akhirnya, adalah proses yang tidak pernah selesai. Dan pendidikan adalah jalan yang memungkinkan proses itu terus berlangsung dari kelahiran biologis menuju kelahiran sosial yang utuh.
