Dari Kelahiran Biologis ke Kelahiran Sosial: Pendidikan sebagai Jalan Menjadi Manusia

Manusia tidak otomatis menjadi “manusia” hanya karena dilahirkan. Di balik fakta biologis itu, terdapat proses panjang yang menentukan apakah seseorang benar-benar tumbuh sebagai pribadi yang utuh—berakal, berempati, dan mampu hidup bersama orang lain
Silvester Baru,S.Fil. Misionaris Ordo Somascan yang saat ini sedang menjalankan masa OTP di Paroki Santa Rosa Delima, Gustavo a Madero, México.

Dalam kerangka yang lebih luas, pendidikan berperan membentuk masyarakat. Ia memperluas relasi sosial melampaui ikatan keluarga, membangun solidaritas, dan menciptakan struktur sosial yang memungkinkan kehidupan bersama. Tanpa pendidikan, manusia mungkin tetap hidup secara biologis, tetapi tidak akan berkembang sebagai makhluk sosial yang berbudaya.

Meski demikian, pendidikan juga tidak lepas dari kritik. Sebagian melihatnya sebagai bentuk pengkondisian yang membatasi kebebasan individu. Kritik ini tidak sepenuhnya keliru. Namun perlu dipahami bahwa justru melalui proses belajar yang selalu melibatkan pengaruh orang lain manusia memperoleh kemampuan untuk berpikir mandiri dan bertindak bebas. Kebebasan tidak muncul dari ketiadaan aturan, melainkan dari kemampuan memahami dan melampauinya secara sadar.

Di titik ini, relasi antarmanusia menjadi kunci. Manusia lain adalah “pendidik utama” bagi setiap individu. Dari relasi inilah lahir budaya, nilai, dan cara pandang terhadap dunia. Namun tujuan akhir pendidikan bukanlah budaya itu sendiri, melainkan manusia pribadi yang mampu berpikir kritis, berempati, dan bertanggung jawab.

Sayangnya, ideal ini menghadapi tantangan serius dalam konteks modern. Dalam arus neoliberalisme, pendidikan kerap direduksi menjadi alat ekonomi. Pengetahuan dipandang sebagai komoditas, sekolah sebagai pabrik tenaga kerja, dan keberhasilan diukur semata dari kesiapan memasuki pasar kerja. Akibatnya, dimensi reflektif dan humanistik pendidikan sering terpinggirkan.

Jika dibiarkan, arah ini berisiko mengubah manusia menjadi objek sistem, bukan subjek yang merdeka. Pendidikan kehilangan rohnya sebagai proses pembebasan dan justru menjadi mekanisme reproduksi ketimpangan.

Karena itu, sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada hakikatnya: memanusiakan manusia. Pendidikan harus menjadi ruang bagi tumbuhnya otonomi, daya kritis, empati, dan tanggung jawab sosial. Ia tidak hanya mempersiapkan individu untuk bekerja, tetapi juga untuk hidup bersama dan membangun masa depan yang lebih adil.

Menjadi manusia, pada akhirnya, adalah proses yang tidak pernah selesai. Dan pendidikan adalah jalan yang memungkinkan proses itu terus berlangsung dari kelahiran biologis menuju kelahiran sosial yang utuh.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru