PERPEKTIFNUSANTARA.COM, TTU – Petani di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, mulai mengembangkan teknologi pertanian berbasis jerami dan eco enzyme sebagai alternatif untuk mengurangi praktik tebas bakar dan pertanian berpindah-pindah.
Inovasi tersebut dikembangkan Kelompok Tani Berkasih di Desa Banain C dan Kelompok Tani At’oen di Desa Banain A, Kecamatan Bikomi Utara. Praktik ini memanfaatkan jerami sebagai bagian dari pengelolaan lahan, yang kemudian dipadukan dengan eco enzyme yang dikembangkan di TTU.
Ketua Kelompok Tani Desa Banain C, Paskalis Kefi, mengatakan inovasi tersebut diharapkan dapat membantu petani mempertahankan lahan pertanian sekaligus menjaga kesuburan tanah.
Baca juga: Nagekeo Hadapi Risiko Multi-Bahaya, Wabup Gonzalo Minta Dukungan APBN dan Pembangunan Bandara
Menurut Paskalis, selama ini sebagian masyarakat di Banain atau TTU secara umum masih membuka lahan dengan cara membakar. Setelah tanaman dipanen, lahan kemudian ditinggalkan dan masyarakat kembali membuka lahan baru.
Pola tersebut, kata dia, membuat sistem pertanian menjadi berpindah-pindah dan berpotensi menurunkan kesuburan tanah.
“Dulu, di daerah kita airnya banyak. Namun semenjak penerapan sistem pertanian dengan cara bakar hutan secara masif dilakukan, kita mengalami kekeringan, bahkan air pun susah kita dapatkan,” ujar Paskalis.
Baca juga: Kelas Literasi Sinema Bahas Film Pengabdian, Dangdut Menuju UNESCO
Belajar dari Pesisir Selatan