Perspektif Nusantara.com Borong, NTT — Warga Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Kamis (20/8/2026) mengaku belum menerima bantuan apa pun dari pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat. Mereka masih bertahan hidup dengan cara mandiri, mulai dari mencari kebutuhan pangan hingga menangani sendiri kebutuhan obat-obatan bagi warga yang mengalami luka maupun sakit.
Kondisi ini terjadi lima hari lebih setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa berada di laut pada kedalaman 15 kilometer, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, akibat aktivitas sesar naik (thrust fault) Flores Back-Arc Thrust. Guncangan sempat memicu peringatan dini tsunami di NTT, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat, sebelum dicabut oleh BMKG pada pukul 07.30 WIB hari yang sama.
BMKG mencatat ribuan gempa susulan terus terjadi sejak saat itu. Hingga Kamis (20/8) pagi, tercatat lebih dari 3.400 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2, termasuk gempa M5,8 yang kembali mengguncang Manggarai pada dini hari yang sama. Kondisi ini membuat warga di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Kecamatan Elar, terus dibayangi ketakutan dan trauma untuk kembali ke rumah masing-masing.
Baca juga: Bupati Juventus: Dukungan Kemensos dan Alat Berat Dukung Percepatan Penanganan Gempa di Sikka
Warga Desa Rana Gapang menyampaikan bahwa posko pengungsian yang mereka tempati dibangun secara swadaya dengan bahan seadanya, tanpa bantuan tenda maupun perlengkapan dari pemerintah. Kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi meliputi bahan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara akses komunikasi di wilayah tersebut turut terganggu akibat gangguan jaringan dan pemadaman listrik pascagempa.
Sejumlah desa lain di Kecamatan Elar dilaporkan mengalami kondisi serupa, antara lain Rana Kulan, Compang Soba, Sisir, Haju Wangi, dan Kelurahan Tiwu Kondo. Warga setempat mendesak agar distribusi bantuan tidak hanya terpusat di wilayah yang mudah dijangkau, melainkan juga menyasar desa-desa yang berjarak jauh dari pusat pemerintahan.
Di tingkat nasional, Kementerian Sosial (Kemensos) sebelumnya menyatakan telah menyalurkan sedikitnya 30 ton beras reguler dan 5.500 paket sembako ke enam kabupaten terdampak gempa di NTT, serta mengoperasikan dapur umum selama masa tanggap darurat. Namun berdasarkan pengakuan warga, bantuan tersebut belum menjangkau sejumlah desa di Kecamatan Elar, termasuk Rana Gapang.
Warga berharap pemerintah kabupaten maupun pusat segera turun langsung ke lapangan untuk memastikan bantuan benar-benar sampai ke desa-desa yang selama ini luput dari jangkauan distribusi.