PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Perayaan Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus selalu menghadirkan suasana reflektif bagi umat Kristiani. Kenaikan Kristus bukan sekadar peristiwa Yesus terangkat ke surga, tetapi juga momentum spiritual tentang harapan, pengharapan, dan amanat untuk menghadirkan kasih di tengah kehidupan manusia.
Di tengah perayaan iman itu, masyarakat juga disuguhkan kenyataan sosial yang tidak selalu indah. Salah satunya terlihat dalam peristiwa penertiban pedagang kaki lima di kawasan Geliting, Kabupaten Sikka. Seorang pedagang ikan kecil diamankan aparat karena berjualan di bahu jalan negara. Barang dagangannya diangkut, motornya diamankan, dan dirinya dibawa untuk pembinaan.
Peristiwa seperti ini mungkin dianggap biasa dalam logika penegakan aturan. Pemerintah memang memiliki kewajiban menjaga ketertiban umum. Bahu jalan bukan tempat berjualan. Negara harus hadir menjaga keteraturan. Namun, di balik penertiban itu ada sisi kemanusiaan yang tidak boleh hilang: seorang ayah, seorang pencari nafkah, seorang rakyat kecil yang sedang berusaha bertahan hidup.
Baca juga: OPINI: Ketika Seorang Imam Katolik Berinisial LD Tak Berdaya Dibawah Tekanan Gosip Akun Palsu
Di situlah makna Kenaikan Kristus menjadi sangat relevan.
Yesus dalam karya pelayanan-Nya selalu berdiri dekat dengan orang kecil. Ia hadir di tengah nelayan, pemungut cukai, orang miskin, dan mereka yang tersingkir dari ruang sosial. Bahkan banyak mukjizat Yesus lahir dari belas kasih terhadap mereka yang lapar dan menderita.
Kenaikan Kristus seharusnya tidak dimaknai sebagai “perpisahan” Yesus dengan dunia, melainkan pengingat bahwa nilai-nilai Kerajaan Allah harus terus hidup di bumi: keadilan, kasih, dan kepedulian terhadap sesama.
Baca juga: Christian Cup 1 Resmi Bergulir, Turnamen Futsal Bergengsi di Sikka Disambut Antusias Para Penonton
Karena itu, setiap momentum penertiban terhadap rakyat kecil selalu mengundang pertanyaan moral: apakah hukum sudah berjalan bersama belas kasih? Apakah aturan ditegakkan tanpa melukai martabat manusia?