PAULINA || Cerpen Martin Meli

Penulis: Martin Meli

Martin Meli, nama yang tidak asing di telinga pencinta sastra Nian Tana. Beliau adalah sastrawan yang dibesarkan di tanah Magepanda, yang merupakan alumni Seminari BSB Maumere yang saat ini tengah menempuh pendidikan Magister di IFTK Ledalero, Maumere, Flores-Nusa Tenggara Timur, Program studi Teologi.

Sebagai sastrawan, Martin Meli telah melahirkan banyak karya. Satu diantaranya dihidangkan di bawah ini. Ia menyukai buku dan juga kamu.

P A U L I N A

Mentari baru saja naik di atas perbukitan, menyiram hamparan sawah dengan cahaya keemasannya. Embun masih menggantung di ujung daun padi, dan aroma tanah basah menyeruak hingga ke bilik dapur yang berdinding bambu itu. Di dalamnya, seorang perempuan tua sedang menjerang air dengan tungku kayu. Wajahnya kusut oleh usia, namun sorot matanya tajam, penuh daya tahan yang telah ia pelajari sepanjang hidup. Namanya Mama Paulina.
Ia bukan siapa-siapa. Hanya petani kecil di ujung desa Magepanda, Pulau Flores. Namun bagi keempat anaknya, ia adalah dunia. Bapa mereka, Matheus, telah meninggal dua belas tahun lalu, sehari setelah anak keempat, si kecil Andika, lahir ke dunia. Sejak itu, Paulina mengambil alih semua: ladang, rumah, dan cinta.
Ia tak pernah menyebut dirinya kuat. Tapi tanah yang diinjaknya tahu, bahwa kaki itu tak pernah mundur dari hujan, dari kemarau, dari duka. Setiap pagi, ia menggendong cangkul, mengayun langkah ke sawah dengan punggung membungkuk, membelah pagi hingga pagi demi sesuap nasi dan selembar harapan.
Anak sulungnya, Markus, kini duduk di bangku SMA. Disusul Siska dan Amos, yang masih bersekolah menegah pertama. Andika, si bungsu, belum genap sembilan tahun, tetapi telah hafal bentuk kapak, rasa lelah, dan bau keringat ibunya. Mereka tak punya banyak, tetapi tiap senja, mereka duduk melingkar makan nasi dan jagung bose, mendengarkan kisah tentang ladang, tentang hujan yang terlambat, tentang Mama yang tak sempat tidur karena harus menumbuk padi sampai tengah malam.
Setiap tetes peluh yang jatuh ke tanah adalah doa bisu. Paulina tak pernah mengeluh di depan anak-anaknya. Tapi malam hari, ketika semua sudah tidur, ia menghadap salib kayu yang tergantung di dinding, merapal doa dengan suara serak:
“Tuhan, kalau saya boleh minta… jangan biarkan anak-anak saya mewarisi penderitaan ini. Cukup saya saja. Biarlah mereka naik sekolah, jadi orang. Jangan biar mereka tumbuh untuk mengulang luka yang sama.”
Hari-hari berganti. Musim datang silih berganti. Paulina tetap menanam padi di sawah pinjaman, memetik kemangi dan bayam liar untuk dijual di pasar. Kadang ia mendapat upah dari menumbuk padi tetangga, atau membantu memasak di pesta kampung. Di antara semua itu, ia tak pernah absen mengantar anak-anaknya ke sekolah. Dengan langkah pelan, ia menuntun Andika melewati jalan tanah yang licin ketika hujan, atau berdebu ketika kemarau.
“Sekolah yang rajin,” katanya setiap pagi. “Belajar itu cara paling baik untuk melawan nasib.”
Tetapi nasib bukan musuh yang mudah. Ia kadang licik, menyerang diam-diam. Suatu malam, ketika tubuhnya mulai lelah dan kakinya membengkak, ia jatuh di ladang. Ia tak sadarkan diri selama beberapa jam, hingga seorang petani lain menemukannya dan membawanya pulang. Sejak itu, tubuhnya tak lagi sama. Ia mulai sering batuk, sering pusing, tapi tetap memaksa bangun pagi, memaksa tubuhnya untuk berjalan, karena hidup tak bisa ditunda.
“Mama kenapa tidak istirahat saja?” tanya Markus.
“Kalau Mama istirahat, siapa yang bayar uang sekolahmu?” jawabnya sambil tersenyum tipis.
Anak-anak tahu, cinta itu tak butuh banyak kata. Cinta bisa hadir dalam bentuk seikat bayam, dalam baju tambalan yang dijahit malam-malam, dalam bekal nasi garam yang disisipkan diam-diam ke dalam tas sekolah.
Ketika Markus lulus SMA, ia mendapat beasiswa di salah satu universitas Kota Kupang. Itu hari yang membuat Paulina menangis paling lama. Bukan karena sedih, tapi karena senang. Tapi di balik senyumnya, tubuhnya mulai rapuh. Ia mulai tidak kuat menumbuk padi. Tangannya gemetar. Ia lebih sering batuk daripada bicara. Tapi anak-anak tak tahu. Ia sembunyikan semua di balik senyum dan kerja.
Amos, yang duduk di kelas delapan, mulai menggantikan Mama ke pasar. Siska mulai membantu memasak dan mencuci. Andika ikut ke kebun saat akhir pekan. Mereka semua belajar satu hal: kerja keras bukan kutukan, tapi warisan cinta yang Mama ajarkan diam-diam.
Suatu hari, saat hujan besar datang, rumah mereka bocor di lima tempat. Atap seng sudah lapuk. Kayu penyangga mulai rapuh. Paulina batuk makin parah. Tapi ia tetap duduk menenun kain sarung, mengeringkan padi, mengaduk bubur untuk anak-anak. Malam itu, Andika memeluknya.
“Mama, jangan kerja terus. Duduk saja. Biar saya yang bantu.”
“Tidak bisa begitu, anak. Kamu belum cukup besar.”
“Tapi saya cukup cinta Mama.”
Paulina tak bisa membalas. Ia hanya menangis. Untuk pertama kalinya, air matanya jatuh bukan di depan salib, tapi di dada anaknya.
Beberapa bulan kemudian, tubuh Paulina makin lemah. Dokter desa bilang ia kena infeksi paru-paru. Tapi ongkos berobat terlalu mahal. Mereka hanya mampu beli obat warung dan minyak kayu putih. Paulina bilang tak apa. Tapi anak-anak tahu, tak ada yang baik-baik saja dari batuk darah.
Markus pulang dari Kupang dengan uang beasiswa. Ia membeli obat, membeli beras, bahkan memperbaiki atap rumah. Tapi Paulina hanya tersenyum, “Jangan habiskan uang sekolahmu untuk Mama. Pakai itu untuk masa depanmu. Itu yang paling penting.”
Markus menangis malam itu. Ia menulis di buku hariannya:
“Saya hidup karena Mama membayar hidup saya dengan tubuhnya sendiri. Saya tumbuh karena ia layu perlahan demi saya.”
Waktu terus berjalan. Suatu subuh, Paulina tidak bangun dari tidurnya. Tubuhnya dingin. Di tangan kirinya, masih tergenggam rosario kecil. Di ujung bibirnya, ada senyum tipis. Seolah ia tidur dalam damai, tahu bahwa ia telah selesai mencintai dengan seluruh dirinya.
Seluruh desa datang ke rumah mereka. Semua tahu, Paulina adalah ibu segala ibu. Ia tidak punya banyak, tapi ia memberi segalanya. Di atas liang lahatnya, Markus berdiri sambil membaca sepucuk surat:
“Mama, engkau takkan pernah mati. Namamu akan hidup di ladang, di tanah, di bau keringat, di kata-kata kami, dan dalam cara kami mencintai hidup. Engkau adalah tanah yang menumbuhkan kami, dan air yang memberi kami hidup. Terima kasih, Mama. Engkau telah selesai berjuang. Kini, giliran kami.”
Dan di hari itu, langit seperti mengerti. Hujan turun perlahan, seperti pelukan dari langit untuk ibu yang tak pernah menyerah. Anak-anaknya berdiri di bawah rinai itu, dengan hati yang telah diwarisi satu hal yang paling mahal: cinta yang bertahan dalam kerja, dalam luka, dan dalam doa tanpa pamrih.
Setelah pemakaman, rumah berdinding bambu itu seperti kehilangan napas. Bau kayu bakar, aroma bubur jagung, dan suara batuk Mama semuanya menghilang. Yang tinggal hanya bayang, dan kenangan yang menggantung di setiap bilik. Sore itu, Markus duduk sendiri di bale-bale, memandang sawah dari kejauhan. Langit kemerahan, seperti luka yang belum sembuh.
Andika, si bungsu, duduk di lantai, menekuk kakinya. Ia memeluk rosario kecil milik Mama, mengusapnya seperti mengusap pipi. “Kk Markus… Mama sekarang benar-benar tidak ada lagi, ya?” suaranya pelan, gemetar.
Markus menoleh, mengangguk pelan. “Tapi Mama masih tinggal di sini…” Ia menepuk dada kirinya, lalu dada adiknya. “…di sini juga.”
Andika mengangguk, tapi matanya tidak bisa dibohongi. Ia masih terlalu kecil untuk kehilangan sebesar itu. Setiap malam ia menunggu suara langkah Mama menuju dapur, menunggu ucapan selamat tidur yang tak pernah datang lagi. Kadang ia tidur dengan pakaian yang masih bau tanah ladang, seolah berharap Mama mencium dan memarahi seperti dulu: “Andika, kamu tidak ganti baju? Bau sawah begini mau tidur?”
Tapi malam-malam itu kini hanya berisi hening.
Sedangkan Siska tak banyak bicara setelah pemakaman. Ia hanya sibuk. Terlalu sibuk. Setiap pagi ia bangun lebih cepat dari ayam, menyapu halaman, mencuci baju, menanak nasi, menyisir rambut Andika, dan memastikan Amos tidak lupa pakai sepatu. Ia menahan semua air mata di balik sendok dan sapu tangan. Tapi suatu malam, ia duduk diam di dapur. Api di tungku hampir padam. Ia memegang sendok, tapi lupa sedang memasak bubur. Air di panci meluber.
“Kk Siska… apinya…” Amos datang tergesa.
“Maaf… Kk lupa…” Siska buru-buru mematikan api. Ia menunduk.
Amos memandangi wajah kakaknya yang penuh asap dan peluh. “Kk Siska… tidak apa-apa, kan?”
Jawaban Siska adalah tangis pertama sejak pemakaman. Ia peluk Amos erat, sangat erat. “Kita harus kuat, Amos… Kita harus bisa terus hidup.”
Beberapa bulan kemudian, badai hidup mulai menggoyang. Uang beasiswa Markus tak cukup untuk semua. Ia harus kembali ke Kupang untuk menyelesaikan kuliah. Tapi hatinya bimbang. Siapa yang jaga adik-adiknya?
“Pergilah, Kk,” kata Amos di suatu malam. “Mama tidak pernah berhenti bekerja agar kita bisa sekolah. Kakak harus lanjut. Itu amanat Mama.”
“Tapi kalian?”
“Kami bisa jaga diri. Kami sudah belajar dari Mama.”
Markus menatap adik-adiknya satu per satu. Andika semakin kurus. Siska semakin pucat. Amos semakin dewasa. Tapi ada api kecil di mata mereka: tekad. Ia tahu, api itu warisan Mama. Maka dengan berat hati, ia pamit.
Sebelum pergi, ia membakar lilin di kuburan bapa dan mamanya lalu menggenggam tangan Andika. “Kalau kamu kangen Mama, lihat langit pagi. Lihat ladang. Mama ada di situ.”
Tahun-tahun berlalu. Siska akhirnya masuk SMA dengan hasil ujian yang memuaskan. Amos menjadi pekerja bangunan di kota kecamatan, mengirim sebagian penghasilannya ke rumah. Andika tetap menjadi penjaga rumah, dan mulai menulis.
Ia menulis surat untuk Mama di buku catatan kecil. Setiap halaman adalah percakapan batin yang ia ingin ucapkan:
“Mama… hari ini saya tanam jagung. Tanpa Mama, tanahnya tetap lembut, tapi tidak hangat. Saya belajar bicara dengan tanah seperti Mama dulu. Tapi saya masih kalah sabar.”
“Mama… Saya lihat langit tadi pagi. Ada awan yang mirip dengan senyum Mama. Saya bilang ke langit: jangan ganggu Mama, dia sedang istirahat. Biarkan dia tidur lama-lama, dia terlalu capek kemarin-kemarin.”
Surat-surat itu terus tumbuh. Suatu ketika, Markus membaca satu di antaranya dan menangis. Ia memutuskan untuk menerbitkannya di salah satu media. Buku kecil itu diberi judul ”Tanah dan Mama”, kumpulan surat seorang anak petani kepada ibunya yang telah tiada.
Suatu ketika, di sebuah seminar pendidikan di kota kabupaten, Markus berdiri di podium sebagai pembicara tamu. Ia telah menjadi guru. Di hadapannya duduk ratusan siswa.
“Saya bukan siapa-siapa. Saya anak petani. Tapi saya lahir dari rahim seorang perempuan hebat yang tidak tahu arti menyerah. Semua yang saya punya hari ini: buku, ilmu, bahkan hidup saya, dibayar dengan peluh dan cinta seorang Mama bernama Paulina.”
Ia hening sejenak.
“Saya harap, kalian semua punya satu orang yang kalian cintai sebesar saya mencintai Mama saya. Dan jika belum, belajarlah mencintai tanah, udara, dan orang-orang yang diam-diam membuat kalian bisa berdiri sampai hari ini.”
Dua puluh tahun setelah kepergian Mama, keempat anak itu berdiri bersama di pemakaman desa. Andika kini seorang penulis. Siska seorang bidan di puskesmas. Amos membuka toko bahan bangunan kecil, dan Markus menjadi kepala sekolah.
Mereka menanam pohon Kamboja di samping makam Mama dana Bapa. Tanah itu masih sama. Angin dari laut masih membawa bau garam. Tapi kini, tanah itu tak hanya menyimpan tubuh Mama dan Bapa, tapi juga harapan-harapan baru yang tumbuh dari mereka.
Andika menulis di batu nisan baru yang mereka pasang:
“Tanah yang mengajarkan kami berdiri. Air yang mengajarkan kami bertumbuh. Cintamu tidak mati, ia hanya pindah tempat, ke dada kami.”
Dan ketika angin sore menyapa ladang, daun-daun seolah berbisik: “Terima kasih, Mama.”

Baca juga: Kumpulan Puisi Leonry Un

Klik link ini untuk mendapat informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru