Rasanya, maut semakin mendekat dan mendekap.
Urapan kecil di ubun-ubun meredahkan badai air mata.
Pintahnya; “Nak, Ibu di sini. Tenanglah. Jangan takut.”
Kupeluk ibu. Ia memelukku.
Sebelum reruntuhan langit membelah tatapan yang menetap.
Ketika fajar menjamu, keduanya kembali pada rahim yang tak melahirkan.