Bunda Literasi Sikka dan Pokja Gelar Trauma Healing di Posko Pengungsian Korban Gempa

Bunda Literasi Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., bersama jajaran Pokja hadir secara langsung dan berinteraksi dengan anak-anak melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan, edukatif, dan membangun suasana positif di tengah kondisi pengungsian.

Perspektif Nusantara, -Maumere- Bunda Literasi Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago bersama Kelompok Kerja (Pokja) Bunda Literasi Kabupaten Sikka dan Tim Literasi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak korban gempa bumi yang mengungsi di posko pengungsian di halaman Kantor Bupati Sikka, Rabu, 19/8/2026 dan Kamis, 20/8/2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak yang terdampak bencana gempa bumi, khususnya mereka yang masih berada di lokasi pengungsian dan membutuhkan pendampingan untuk mengurangi rasa takut, cemas, maupun trauma akibat gempa dan gempa susulan yang masih terjadi.

Bunda Literasi Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., bersama jajaran Pokja hadir secara langsung dan berinteraksi dengan anak-anak melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan, edukatif, dan membangun suasana positif di tengah kondisi pengungsian.

Baca juga: Bupati Juventus: Dukungan Kemensos dan Alat Berat Dukung Percepatan Penanganan Gempa di Sikka

Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diajak bermain, bernyanyi, berkomunikasi, serta mengikuti aktivitas literasi yang dikemas secara ringan dan menyenangkan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu anak-anak kembali ceria, merasa aman, sekaligus tetap mendapatkan ruang untuk berekspresi selama berada di pengungsian.

Ny. Fista menyampaikan bahwa perhatian terhadap anak-anak korban bencana tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan logistik, tetapi juga menyangkut kebutuhan psikologis dan emosional.

“Anak-anak adalah kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam situasi bencana. Mereka membutuhkan rasa aman, pendampingan, ruang bermain, dan kesempatan untuk kembali tersenyum. Karena itu, kegiatan trauma healing ini kita hadirkan agar anak-anak tidak larut dalam ketakutan akibat gempa,” ungkapnya.

Baca juga: Penyidik Ubah Frasa Pasal Kasus Penganiayaan dan Pengancaman Perempuan Lansia, GMNI Desak Kapolres Flores Timur Copot Penyidik

Menurutnya, kegiatan literasi juga dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu pemulihan psikologis anak. Membaca, bercerita, bermain dan belajar bersama dapat memberikan suasana yang lebih positif sekaligus menjaga semangat anak-anak selama berada di tempat pengungsian.

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru