Dalam Injil hari ini, Yesus datang menemui Marta yang sedang berduka karena kematian Lazarus. Di tengah kesedihan itu, Yesus menyampaikan sabda yang mengubah cara pandang Marta: “Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Yesus mengajak Marta untuk tidak hanya berharap pada kebangkitan di akhir zaman, tetapi percaya bahwa di dalam diri-Nya kehidupan baru telah dimulai. Kehadiran Kristus mengalahkan kuasa maut dan membawa harapan yang tidak pernah padam.
Sering kali kita menghadapi “kematian” dalam berbagai bentuk: harapan yang pupus, relasi yang rusak, kegagalan, atau pergumulan hidup yang terasa begitu berat. Namun Yesus tetap hadir dan berkata kepada kita, “Percayalah kepada-Ku.” Ketika kita berpegang pada Kristus, tidak ada kegelapan yang mampu memadamkan terang-Nya. Ia sanggup membangkitkan harapan yang telah mati dan memberi kekuatan untuk melangkah kembali.
Kasih kepada Allah harus tampak dalam kasih kepada sesama. Orang yang sungguh mengenal Allah akan belajar mengampuni, melayani dengan rendah hati, peduli kepada mereka yang menderita, serta membawa damai di mana pun ia berada. Dunia akan mengenal Kristus bukan pertama-tama melalui kata-kata kita, melainkan melalui kasih yang nyata dalam tindakan sehari-hari.
Hari ini, marilah kita membuka hati untuk mengalami kasih Allah yang menghidupkan. Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita dimampukan untuk mengasihi tanpa pamrih. Biarlah setiap perkataan, keputusan, dan tindakan kita menjadi cerminan kasih Allah, sehingga melalui hidup kita banyak orang mengalami harapan, sukacita, dan kehidupan baru di dalam Tuhan.
Refleksi:
1. Apakah kasih Allah sudah menjadi dasar setiap perkataan, sikap, dan tindakan saya?
2. Apakah saya sungguh percaya bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup sehingga saya tetap memiliki harapan di tengah kesulitan?