“Gereja Motael menjadi saksi bahwa doa kita tidak punya paspor. Kita melangkah di atas tanah yang berbeda, namun bersujud pada altar dan takdir yang sama.”
Gerimis tipis menyapu nisan beton di pemakaman Metinaro sore itu, melarutkan debu-debu kering yang dibawa angin musim kemarau dari arah Pulau Atauro. Lima tahun telah berlalu sejak maut merenggut separuh jiwanya, namun bagi Maria, waktu di Dili seolah membeku dalam warna saga kain tais yang kian memudar di atas pusara itu. Perempuan asal Jawa itu berlutut, jemarinya yang halus mengusap lumut tipis yang mulai menyelimuti ukiran nama Joao de Araujo.
Di samping salib kayu sang kekasih, Maria meletakkan setangkai kamboja putih dan menuangkan sedikit kopi hangat dari cangkir kecil yang dibawanya. Aroma pekat kopi Ermera membubung, berbaur dengan wangi tanah basah. Kopi itu adalah pemberian Mateo, murid tercerdas di kelasnya, yang baru saja mendapatkan kiriman dari perbukitan. Mateo adalah anak kecil terakhir yang didekap Ajo (sapaan akrab untuk Joao) di bangsal anak Rumah Sakit Nasional Guido Valadares—bocah yang selamat dari maut, sementara sang dokter bertukar nyawa dengannya.
“Ajo,” lirih Maria, suaranya serak ditelan gemuruh pelan kota Dili di kejauhan. “Aku tidak pernah sampai ke Ermera bersamamu. Tapi sore ini, Ermera yang kau janjikan datang kepadaku melalui anak yang kau selamatkan.”
Sambil menggenggam rosario kayu yang permukaannya telah licin oleh doa-doa yang rapuh, ingatan Maria melayang mundur ke malam paling jahanam dalam hidupnya, lima tahun yang lalu.
Malam itu, lorong rumah sakit berbau karbol dan keputusasaan. Sebuah wabah demam berdarah yang ganas telah melumpuhkan pesisir Dili. Ajo, dengan sumpah hipokrates dan hati manusianya yang terlalu luas, menolak untuk pulang berhari-hari demi merawat gelombang pasien anak yang datang dari berbagai distrik. Hingga akhirnya, sang dokter tumbang, menyembunyikan gejalanya sendiri sampai virus itu merusak tubuhnya yang kelelahan.
Maria masih ingat bagaimana ia berlari menyusuri koridor, menemukan Ajo di ujung napasnya di bawah deru mesin ventilator yang monoton. Wajah pria itu pucat, sekering tanah berdebu Liquiçá di musim kemarau, namun matanya tetap memancarkan kehangatan paroki.
