Ajo menggeleng, menggenggam jemari Maria erat-erat di atas pangkuan mereka. “Gereja Motael menjadi saksi bahwa doa kita tidak punya paspor, Maria. Kita menyembah Tuhan yang sama. Darahku menyembuhkan anak-anak di rumah sakit, dan suaramu menyembuhkan masa depan mereka di kelas. Bukankah itu sudah cukup untuk menyatukan kita?”
Awal dari segalanya adalah hujan lebat yang membilas kota beberapa tahun sebelumnya. Maria, yang baru saja datang dari riuh Jawa dengan koper berisi buku dongeng anak untuk mengajar di sekolah dasar beratap seng di pinggiran Dili, berdiri menggigil di baris bangku paling belakang Gereja Santo Antonio de Motael. Angin laut bertiup kencang membawa aroma garam dari dermaga Lecidere, berbaur dengan wangi dupa yang membubung ke langit-langit gereja.
Saat Maria terbatuk-batuk kecil, seorang pria dengan jubah dokter yang tersampir di lengan menoleh. Pria itu menyerahkan sebotol air hangat dan sebuah senyuman yang terbuat dari ketulusan tanah kering Timor.
“Batukmu terdengar seperti nyanyian sedih,” bisik Ajo hari itu, suaranya selembut angin laut Tasitolu yang menyapu barisan pohon bakau. Itulah awal mula dari sebuah kisah yang tak pernah mengira akan berakhir di bawah gundukan tanah Metinaro.
***
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya di ufuk barat Dili, melukis garis senja merah saga di Fatucama yang begitu dramatis dan melankolis. Warna langit itu memantulkan rona kain tais pengikat cinta mereka, seolah alam semesta ikut mengabadikan perasaan yang tak sempat selesai di dunia. Maria bangkit dari sela-sela nisan Metinaro, merapatkan selendang tais tua di bahunya. Ia melangkah keluar dari gerbang pemakaman dengan tenang.
Maria tahu ia tidak akan pernah pulang ke Indonesia. Tanah Jawa adalah masa lalunya, namun di tanah Timor ini, hatinya telah menemukan altar pengabdian yang sejati. Esok pagi, lonceng sekolah akan kembali berbunyi, anak-anak seperti Mateo akan menunggunya di depan kelas, dan Maria akan terus mengajar. Ia kehilangan kekasihnya, namun ia memilih tinggal untuk menjaga mimpi-mimpi anak Timor—merawat kehidupan yang pernah diperjuangkan Ajo hingga napas terakhirnya. Di bawah perlindungan sunyi Cristo Rei, ia berjalan pulang, yakin bahwa Ajo selalu menunggunya di altar yang abadi.
