SENJA MERAH SAGA DI FATUCAMA

Awal dari segalanya adalah hujan lebat yang membilas kota beberapa tahun sebelumnya. Maria, yang baru saja datang dari riuh Jawa dengan koper berisi buku dongeng anak untuk mengajar di sekolah dasar beratap seng di pinggiran Dili, berdiri menggigil di baris bangku paling belakang Gereja Santo Antonio de Motael.
Mikhael Wora , seorang penulis dan penyair. Ia menyukai dunia seni. Buku antologi puisi perdananya berjudul: _Surat Cinta untuk Adonai_ , 2017. Pernah nyasar di Jepang, Mexico dan Turkey. Kini tinggal di Timor Leste dan semoga tidak nyasar lagi.

“Maria…” bisik Ajo malam itu, menggerakkan ibu jarinya yang lemah untuk mengusap air mata di pipi Maria. “Tuhan memintaku pulang lebih cepat… Maaf, Ermera dan wangi kopi… tak bisa kutunjukkan padamu. Aku gagal membawamu ke rumah ibuku.”

“Jangan bicara begitu, Ajo! Dengarkan aku,” isak Maria, dadanya dihantam rasa sakit yang tak terperi. “Kau tidak gagal. Rumahmu ada di sini, di dalam hatiku. Demi Santa Maria, bertahanlah untukku…”

Ajo hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman perpisahan yang paling melankolis. “Tetaplah mengajar di sini, ha’u-nia domin (cintaku)… Jadilah ibu bagi anak-anak kita yang kehilangan… Aku tidak pergi jauh. Aku hanya menunggumu di altar yang lebih abadi.” Napas itu terhenti bersamaan dengan dentang lonceng gereja di kejauhan yang menandakan waktu doa Angelus.

Jauh sebelum maut menjadi penyair yang kejam bagi mereka, Dili adalah kota penuh puisi. Maria mengingat kembali masa-masa indah saat mereka melewatkan Sabtu malam di puncak bukit Fatucama, di bawah tatapan teduh patung Cristo Rei. Mereka biasa memandang hamparan laut Banda yang luas—air yang memisahkan tanah kelahiran Maria di barat dan tanah leluhur Ajo di timur.

Di tempat itulah Ajo pernah melepaskan kain tais—tenun tradisional Timor berwarna merah saga warisan ibunya—lalu menyampirkannya di bahu Maria untuk mengusir angin malam yang menusuk.

“Di tanahku,” kata Ajo lembut, jemarinya mengusap ujung kain yang berumbai, “tais ini bukan cuma kain. Ini cara kami memeluk seseorang yang kami anggap rumah. Kau adalah rumah yang kutemukan di antara debu kota Dili, Maria.”

Maria menatap mata Ajo yang sewarna kopi pekat. “Tapi aku adalah orang asing, Ajo. Aku datang dari masa lalu yang mungkin meninggalkan goresan di tanah ini.”

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru