“Maria…” bisik Ajo malam itu, menggerakkan ibu jarinya yang lemah untuk mengusap air mata di pipi Maria. “Tuhan memintaku pulang lebih cepat… Maaf, Ermera dan wangi kopi… tak bisa kutunjukkan padamu. Aku gagal membawamu ke rumah ibuku.”
“Jangan bicara begitu, Ajo! Dengarkan aku,” isak Maria, dadanya dihantam rasa sakit yang tak terperi. “Kau tidak gagal. Rumahmu ada di sini, di dalam hatiku. Demi Santa Maria, bertahanlah untukku…”
Ajo hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman perpisahan yang paling melankolis. “Tetaplah mengajar di sini, ha’u-nia domin (cintaku)… Jadilah ibu bagi anak-anak kita yang kehilangan… Aku tidak pergi jauh. Aku hanya menunggumu di altar yang lebih abadi.” Napas itu terhenti bersamaan dengan dentang lonceng gereja di kejauhan yang menandakan waktu doa Angelus.
Jauh sebelum maut menjadi penyair yang kejam bagi mereka, Dili adalah kota penuh puisi. Maria mengingat kembali masa-masa indah saat mereka melewatkan Sabtu malam di puncak bukit Fatucama, di bawah tatapan teduh patung Cristo Rei. Mereka biasa memandang hamparan laut Banda yang luas—air yang memisahkan tanah kelahiran Maria di barat dan tanah leluhur Ajo di timur.
Di tempat itulah Ajo pernah melepaskan kain tais—tenun tradisional Timor berwarna merah saga warisan ibunya—lalu menyampirkannya di bahu Maria untuk mengusir angin malam yang menusuk.
“Di tanahku,” kata Ajo lembut, jemarinya mengusap ujung kain yang berumbai, “tais ini bukan cuma kain. Ini cara kami memeluk seseorang yang kami anggap rumah. Kau adalah rumah yang kutemukan di antara debu kota Dili, Maria.”
Maria menatap mata Ajo yang sewarna kopi pekat. “Tapi aku adalah orang asing, Ajo. Aku datang dari masa lalu yang mungkin meninggalkan goresan di tanah ini.”
