Menjelang Tahbisan Diakon 2026: Jejak Panggilan dan Pengabdian Diakon Enti Daga, SVD

Mengusung moto panggilan “Aku percaya, Tuhan” (Yohanes 9:38), Frater Enti Daga memperlihatkan perjalanan iman yang lahir dari keyakinan mendalam kepada Tuhan. Moto tersebut menjadi cerminan spiritualitas seorang calon pelayan Gereja yang menaruh seluruh hidupnya dalam penyelenggaraan Ilahi.

Sesudah itu, Frater Enti melanjutkan studi filsafat di IFTK Ledalero pada tahun 2019 hingga 2023. Di kampus yang dikenal sebagai pusat intelektual Gereja di Indonesia Timur tersebut, ia ditempa tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kepekaan sosial dan semangat pelayanan bagi masyarakat kecil.

Dalam perjalanan formasinya, Frater Enti juga menjalani masa TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di SMPK St. Josef Freinademetz, Tambolaka, Sumba Barat Daya, pada tahun 2023 hingga 2024. Pengalaman pastoral ini menjadi ruang pembelajaran nyata untuk hidup bersama umat, memahami persoalan masyarakat, dan menghadirkan Gereja yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kini, ia sedang menempuh Studi Magister Teologi di IFTK Ledalero pada periode 2024–2026 sebagai bagian dari persiapan menuju pelayanan yang lebih matang. Dalam waktu dekat, Frater Enti juga direncanakan menjalani perutusan misioner di Brazil Central SVD Province, sebuah bentuk kepercayaan sekaligus panggilan universal khas Serikat Sabda Allah.

Tahbisan diakon yang akan berlangsung pada 31 Mei 2026 mendatang bukan hanya menjadi sukacita pribadi bagi Frater Enti dan keluarganya, tetapi juga kebanggaan bagi umat Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, Keuskupan Agung Ende, serta seluruh keluarga besar SVD.

Di tengah dunia yang terus berubah dengan berbagai tantangan sosial, krisis moral, dan melemahnya nilai kemanusiaan, Gereja membutuhkan pelayan-pelayan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga rendah hati dan memiliki hati untuk melayani. Sosok Frater Enti Daga menjadi salah satu gambaran generasi muda Gereja yang memilih jalan pengabdian di tengah arus zaman yang serba instan dan materialistis.

Tahbisan diakon merupakan awal dari tanggung jawab besar: menjadi pelayan Sabda, pelayan altar, dan pelayan kasih. Karena itu, perjalanan seorang diakon tidak berhenti di altar Gereja, tetapi hadir di tengah masyarakat, mendengar jeritan kaum kecil, dan membawa harapan bagi mereka yang mengalami kesulitan hidup.

Semangat misioner yang tertanam dalam diri Frater Enti juga menunjukkan bahwa panggilan religius bukan sekadar tentang hidup untuk diri sendiri, melainkan kesiapan untuk diutus ke mana saja demi pelayanan Injil. Penugasan ke Brazil Central SVD Province menjadi bukti bahwa Gereja terus membutuhkan pewarta-pewarta muda yang siap melintasi batas budaya dan bangsa.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler