Opini: Negara Memperingati Kartini, Tapi Lupa Menggaji ‘Penjaga’ Kelasnya di Sikka

Ilustrasi AI Guru P3K

Bu Regina adalah salah satunya. Ia mengajar puluhan murid dengan fasilitas terbatas, bahkan harus membeli sendiri perlengkapan belajar.

Di tempat lain, Pak Ansel tetap mengajar meski harus menyeberang laut dan bertahan dengan kondisi serba sederhana. Mereka adalah wajah nyata pendidikan yang menjaga angka partisipasi sekolah tetap tinggi.

Antara Angka dan Fakta

Kabupaten Sikka mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) SD sebesar 98,7 persen pada 2026. Namun di balik capaian itu, terdapat kenyataan bahwa sistem pendidikan sangat bergantung pada para guru honorer yang bekerja tanpa jaminan kesejahteraan memadai.

Ini bukan sekadar cerita kemiskinan, melainkan persoalan struktur. Negara mencatat keberhasilan, tetapi sering kali abai pada pihak yang menjadi penopang utamanya.

Sementara proses pengangkatan PPPK memang berjalan, kebutuhan di lapangan masih jauh lebih besar dan tidak bisa menunggu.

Pada akhirnya, peringatan Kartini seharusnya tidak berhenti pada simbol dan seremoni. Ia harus menjadi pengingat bahwa emansipasi tidak hanya soal akses pendidikan, tetapi juga soal penghargaan terhadap mereka yang menjalankannya setiap hari.

Menghormati Kartini hari ini berarti memastikan para guru seperti Bu Regina dan Pak Ansel hidup layak dari pekerjaannya. Sebab tanpa mereka, terang yang diwariskan Kartini hanya akan menjadi slogan yang dipajang setahun sekali.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru