PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE– Momentum Rapat Senat Terbuka Wisuda IFTK Ledalero tahun akademik 2025/2026 di Auditorium St. Thomas Aquinas Ledalero tidak hanya menyisahkan kenangan dan pengalaman akademik bagi para wisudawan tetapi juga menjadi sorotan publik. Hal tersebut tidak terletak pada kuantitas wisudawan, lulusan pertama program studi Desain Komunikasi Visual dan Kewirausahaan, Euforia yang santun tetapi pada sosok Mahasiswa pembawa orasi ilmiah. Brigita Dona Lebao, demikian lazimnya disapa.
Dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa yang dihadiri oleh Asisten III Gubernur Nusa Tenggara Timur, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV, Kepala Dinas Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka, Wakil Ketua DPRD Sikka, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Sikka, Brigita Dona Lebao tampil membawa orasi ilmiah yang berjudul Quo Vadis: Setelah Wisuda, Kita Mau Ke Mana? Menimbang Mimpi Keberhasilan Pribadi dan Tanggung Jawab Sosial. Dona Lebao tampil percaya diri membawa sebuah tanggung jawab akademik tersebut di pundaknya dan mampu menghipnotis ratusan pasang mata. Sebuah pertanyaan eksistensial membuat situasi riang perlahan diam. Quo Vadis: setelah wisuda, kita mau kemana? Sebuah pertanyaan refllektif yang kedengaran sederhana tetapi memiliki kedalaman makna yang luar biasa: Apakah pendidikan hanya menjadi jalan memperoleh pekerjaan, jabatan, penghasilan, dan pengakuan sosial? Ataukah ilmu juga menjadi kekuatan untuk memahami ketidakadilan, memperbaiki kehidupan, dan memperjuangkan martabat manusia?
Baca juga: Mahasiswa Magang WHN Sosialisasikan Organisasi Sekaligus Menjadi Agen Perlinsos.
Perihal 3 Komitmen Yang Mesti Dijalankan Oleh Lulusan
Menggumuli pertanyaan tersebut di atas, Dona Leboa menawarkan tiga pokok penting pada orasinya sekurang-kurangnya akan menjadi bekal untuk perjalanan para wisudawan setelah toga dibuka dan tepuk tangan berakhir.
Pertama, Keberanian untuk memerikasa diri. Dona Lebao bersandar pada asas filosofis yang dibangun oleh Filsuf Yunani, Socrates, Gnoti Seauton, kenalilah diri. Dona menerangkan sikap ini dengan beberapa pernyataan etis: Kita mudah mengkritik pemerintah yang tidak jujur, kebijakan yang tidak adil, dan lembaga yang gagal melayani masyarakat. Namun, apakah kritik kita tetap bermakna jika kita sendiri tidak bersedia berubah? Kita menginginkan kejujuran, tetapi membenarkan kebohongan kecil. Kita menuntut pemimpin berintegritas, tetapi berkompromi ketika kepentingan pribadi dipertaruhkan. Kita berbicara tentang kepedulian lingkungan, tetapi menganggap membuang sampah sembarangan sebagai perkara sepele. Kita ingin mengubah dunia, tetapi enggan mengubah diri sendiri.
Kedua, menggunakan ilmu untuk bekerja bersama, bukan sekadar mengungguli sesama. Pendidikan bukan tentang pengakuan structural tetapi lebih daripada itu harus berdapampak secara universal. Dona menerangkan: Pendidikan juga harus memperluas kesempatan, memperkuat solidaritas, dan membantu masyarakat menyelesaikan persoalannya.