Brigita Dona Lebao, Mahasiswi Pertama Pembawa Orasi Ilmiah dalam Sejarah IFTK Ledalero

"Kita menuntut pemimpin berintegritas, tetapi berkompromi ketika kepentingan pribadi dipertaruhkan. Kita berbicara tentang kepedulian lingkungan, tetapi menganggap membuang sampah sembarangan sebagai perkara sepele. Kita ingin mengubah dunia, tetapi enggan mengubah diri sendiri".
Brigita Dona Lebao

Ketiga, tetap bertanggung jawab di mana pun berada. Pendidikan pada dasarnya adalah tentang tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap diri sendiri dan sesama. Dona menambahkan: dimana pun kita berada, tanggung jawab terhadap kehidupan bersama tetap melekat. Pulang tidak selalu berarti menetap secara fisik. Memberi kembali tidak harus melalui uang atau program besar. Kita dapat berbagi pengetahuan, mendampingi masyarakat, menciptakan pekerjaan, menyebarkan informasi yang benar, dan membela hak mereka yang rentan.

 

Pesan Moral-Konstruktif

Mengakhiri orasi ilmiahnya, Dona tidak berhenti pada pertanyaan-pertanyaan reflektif dan pernyataan-pernyataan konstruktif. Sebagai lulusan pertama program studi Kewirausahan, Dona memberikan pesan moral konstruktif kepada para wisudawan sekurang-kurangnya dapat menjadi pedoman etis dalam bertindak. Dona menambahkan: Kepada rekan-rekan Kewirausahaan, jangan hanya bertanya, usaha apa yang paling menguntungkan? Bertanyalah juga, persoalan siapa yang dapat kita selesaikan, dan siapa yang menanggung akibat dari keuntungan kita?

Kepada rekan-rekan Sistem Informasi dan Desain Komunikasi Visual, teknologi dan kecerdasan buatan membuka peluang, tetapi juga menghadirkan risiko manipulasi, penyebaran kebohongan, dan pelanggaran privasi. Pertanyaannya bukan hanya apa yang dapat kita ciptakan, melainkan siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan manusia seperti apa yang terdampak oleh ciptaan kita? Teknologi harus melayani manusia, bukan menjadikan manusia korban kemajuan.

Kepada rekan-rekan Program Studi Filsafat dan Magister Filsafat, tugas kita ialah menguji asumsi, membongkar prasangka, dan mempertanyakan keadaan yang dianggap wajar padahal mengandung ketidakadilan. Apa artinya pandai berbicara tentang keadilan jika kita diam ketika ketidakadilan terjadi di sekitar kita? Apa artinya memahami kebebasan jika kita menolak mendengarkan pandangan berbeda?

Kepada rekan-rekan Pendidikan Keagamaan Katolik dan Magister Teologi, teruslah mempertanyakan hubungan iman dan kehidupan sosial. Apa artinya berbicara tentang kasih jika kita menutup mata terhadap keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar? Apa artinya mengajarkan persaudaraan jika kebencian terhadap orang berbeda agama, suku, dan pandangan politik dibiarkan berkembang? Iman tidak dapat direduksi menjadi kegiatan sosial, tetapi penghayatan iman yang sungguh-sungguh tidak mungkin terpisah dari kepedulian terhadap sesama.

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru