PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE — Bencana gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak-anak. Karena itu, Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan dukungan psikososial (PSP) kepada siswa SD Inpres Kotauneng, Kabupaten Sikka, melalui kegiatan bermain dan belajar bersama untuk membantu anak-anak kembali merasa aman, tenang, dan ceria setelah mengalami gempa bumi.
Kegiatan yang menyasar siswa kelas 1 hingga kelas 3 tersebut berlangsung mulai pukul 10.30 hingga 12.00 WITA. Kegiatan melibatkan enam orang guru dan empat pemateri dari PMI.
Dukungan psikososial diberikan dengan pendekatan yang ramah anak. Para siswa diajak bermain, bernyanyi, belajar bersama, serta berinteraksi dalam suasana yang menyenangkan. Pendekatan ini bertujuan membantu anak-anak mengurangi rasa takut dan kecemasan pascagempa, sehingga mereka dapat kembali menjalani aktivitas bermain dan belajar secara lebih tenang.
Baca juga: Satu WNA Selamat Terombang-Ambing di Perairan Sikka, Tim SAR Pacu Pencarian Tiga Penyelam Lainnya
Selain memberikan dukungan psikologis, para pemateri juga memperkenalkan pengetahuan dasar mengenai gempa bumi, termasuk bagaimana bersikap dan mengambil tindakan yang tepat ketika bencana terjadi.
Materi disampaikan dengan metode interaktif yang disesuaikan dengan usia anak-anak. Lagu-lagu digunakan sebagai bagian dari kegiatan sehingga anak-anak tidak merasa sedang mengikuti pembelajaran yang kaku. Mereka justru diajak belajar melalui permainan, bernyanyi, dan berbagi pengalaman.
Anak-anak juga diberi kesempatan menceritakan pengalaman mereka ketika mengalami gempa bumi pada 15 Agustus lalu. Ruang bercerita tersebut menjadi bagian penting dari dukungan psikososial karena anak-anak dapat mengekspresikan pengalaman dan perasaan mereka dalam suasana yang aman dan menyenangkan.
Baca juga: Terseret Arus Kencang saat Diving, 3 WNA dan 1 Guide Lokal Hilang di Perairan Panga Batang Maumere
Melalui kegiatan bermain dan belajar bersama, PMI berupaya membangun kembali rasa aman pada diri anak-anak. Anak-anak diarahkan untuk memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi pengalaman pascabencana dan tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.