Eni berharap kegiatan dukungan psikososial dan edukasi kebencanaan tidak berhenti pada satu kegiatan. Menurutnya, pembelajaran mengenai kesiapsiagaan bencana perlu dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau seluruh siswa, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.
“Kegiatan seperti ini harus terus dilakukan, karena anak-anak perlu dibekali bukan hanya dengan pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan saat gempa, tetapi juga bagaimana mengelola rasa takut dan tetap tenang ketika menghadapi bencana,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana bagi anak-anak tidak cukup hanya dengan memastikan keselamatan fisik. Pemulihan psikologis juga menjadi bagian penting agar anak-anak dapat kembali merasa aman, bermain, belajar, dan menjalani kehidupan sekolah secara normal.
Melalui dukungan psikososial yang dikemas dalam suasana bermain dan belajar, anak-anak tidak hanya diajarkan bagaimana menghadapi gempa bumi, tetapi juga dibantu untuk bangkit dari rasa takut, memulihkan keceriaan, dan membangun kembali keberanian mereka untuk beraktivitas.