PERSPEKTIFNUSANTARA — Yayasan Pendidikan Thomas (Yapenthom) memiliki rekam jejak sejarah yang panjang dan monumental dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat di Kabupaten Sikka dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui rilis resmi yang diterima media ini, Yayasan Pendidikan Thomas didirikan secara resmi pada 1 Mei 1947, pilar pendidikan ini lahir langsung atas inisiatif visioner Raja Sikka, Don Yosephus Thomas Ximenes da Silva (Raja Don Thomas).
Berawal dari Gagasan dan Konsultasi Tokoh Bangsa
Gagasan mendirikan Yapenthom berawal dari pengalaman, kunjungan kerja ke Pulau Jawa, serta hasil pertukaran pikiran Raja Don Thomas dengan sejumlah tokoh pejuang nasional. Berangkat dari keinginan kuat untuk memajukan rakyat Kabupaten Sikka di bidang pendidikan, ia memulai langkah awal dengan berdiskusi bersama tokoh masyarakat dan para guru di Lela—yang kala itu menjadi basis elit pendidikan.
Tak hanya itu, Raja Don Thomas juga melakukan konsultasi intensif dengan Misi Katolik di Seminari Tinggi Ledalero dan Deken Maumere.
Setelah menghadiri Konferensi Malino pada tahun 1946, Raja Don Thomas memanfaatkan momentum Hari Pantekosta untuk menggelar pertemuan penting. Pertemuan tersebut melibatkan para Kapitan, Deken Maumere Pater Hooiveld SVD, Pater Molenaar SVD, para Dosen Seminari Tinggi Ledalero, serta Kepala Penilik Sekolah Flores David Wetig.
Baca juga: Efek Kejut Satgas Pajak: Antrean BBM Subsidi di Empat SPBU Sikka Mendadak Lengang
Dari pertemuan ini, disepakati pendirian Sekolah Rendah Istimewa (SRI) atau dalam bahasa Belanda disebut Algemene de Lagerschool (ALS). Sekolah ini mencatatkan sejarah sebagai sekolah pertama di Maumere yang didirikan atas prakarsa awam Katolik, yang di kemudian hari dilebur menjadi SD Katolik Maumere 1.
Cita-Cita Besar dan Berdirinya SMP Yapenthom
Tidak berhenti pada tingkat sekolah dasar, Raja Don Thomas terdorong untuk mendirikan sekolah setingkat SMP atas saran dari Pater Antonius Thyssen SVD dan Pater Frans Cornelissen SVD. Beliau bahkan menyimpan cita-cita besar untuk memfasilitasi pendidikan dari jenjang SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi di bumi Nian Tana.
Tepat pada 1 Agustus 1947, berdirilah SMP Yapenthom. Sekolah ini menerapkan model kelas paralel untuk putra dan putri. Kehadirannya menjadi terobosan besar, mengingat saat itu di Flores baru terdapat satu sekolah menengah, yaitu SMP Ndao di Ende (Schachelschool di bawah asuhan Tarekat Frater Bunda Hati Kudus) yang khusus menerima siswa laki-laki saja.
Pada tahun pertama berdirinya, SMP Yapenthom tidak hanya menampung pelajar dari Kabupaten Sikka, tetapi juga menjadi magnet pendidikan bagi para siswa dari Flores Timur, Ende, Ngada, Manggarai, hingga Kupang, Rote, dan Sumba.