Menjaga Komodo, Menjaga Pariwisata: Perspektif Pemandu Wisata terhadap Sistem Kuota

Tujuan utama sistem kuota memang diarahkan untuk mendukung upaya konservasi, seperti menjaga perilaku alami komodo serta mengurangi kerusakan habitat dan ekosistem di kawasan Taman Nasional Komodo. Namun, ia menegaskan bahwa konsep konservasi juga harus berbasis ekowisata, yaitu memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat lokal yang turut menjaga kelestarian kawasan tersebut.
Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Vilania Jaima, Lidia Astri Kurniati dan Frederikus Putra Kembar

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM — Rencana penerapan sistem kuota wisatawan di Taman Nasional Komodo (TNK) masih menuai beragam tanggapan dari pelaku pariwisata. Salah seorang pemandu wisata di Labuan Bajo, Yohanes Don Bosco, menilai bahwa kebijakan pembatasan jumlah wisatawan tidak sepenuhnya tepat karena berpotensi memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pariwisata.

Menurut Yohanes, tujuan utama sistem kuota memang diarahkan untuk mendukung upaya konservasi, seperti menjaga perilaku alami komodo serta mengurangi kerusakan habitat dan ekosistem di kawasan Taman Nasional Komodo. Namun, ia menegaskan bahwa konsep konservasi juga harus berbasis ekowisata, yaitu memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat lokal yang turut menjaga kelestarian kawasan tersebut.

Ia menilai bahwa menjaga kelestarian komodo merupakan hal yang penting. Akan tetapi, kebijakan yang diterapkan juga harus mempertimbangkan keberlangsungan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan taman nasional.

Baca juga: Wisata Alam dan Ancaman Overtourism: Mencari Keseimbangan yang Berkelanjutan

Pasalnya, sebagian besar masyarakat lokal menggantungkan mata pencaharian mereka pada sektor pariwisata, baik sebagai pemandu wisata, awak kapal, pelaku usaha kuliner, pengelola penginapan, maupun penyedia jasa wisata lainnya.

Lebih lanjut, Yohanes menjelaskan bahwa penerapan sistem kuota berpotensi mengurangi jumlah kunjungan wisatawan karena wisatawan harus memastikan ketersediaan tiket terlebih dahulu sebelum memasuki kawasan TNK. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi kendala karena sebagian besar wisatawan telah memiliki jadwal perjalanan yang telah direncanakan jauh-jauh hari.

Dampak kebijakan tersebut, menurutnya, akan sangat dirasakan oleh para pelaku wisata, khususnya pemandu wisata lepas (freelance guide) yang tidak memiliki pendapatan tetap setiap bulan.

Baca juga: Permasalahan di Pulau Kambing Sikka: Kuasa Hukum Ahli Waris Soroti Fokus Penyidik dan Siap Lanjutkan Perkara Penyerobotan Lama

Mereka sangat bergantung pada jumlah wisatawan yang datang ke Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo. Jika jumlah kunjungan berkurang, maka kesempatan kerja dan pendapatan para pelaku wisata juga akan ikut menurun.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru