Kemarau Panjang, Warga Wolonratet Desa Iantena Keluhkan Krisis Air Bersih dan Lonjakan Harga Distribusi

“Kami biasanya membeli air tangki. Sejauh ini sudah sekitar 3–4 kali. Ini cukup membantu setidaknya untuk kehidupan setiap hari. Tapi harganya pun tidak stabil. Distributor biasanya mematok harga mengikuti letak wilayah. Semakin jauh dan semakin sulit medannya, maka harganya akan semakin naik,” ujar Maria Maria Tali.
Aktivitas Salah Satu Warga Wolonratet Desa Iantena, Kecamatan Kewapante

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE – Warga Kampung Wolonratet, RT 002/RW 001, Dusun Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, terus mengeluhkan krisis air bersih akibat musim kemarau berkepanjangan. Menipisnya pasokan air berdampak serius terhadap pemenuhan kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak hingga memenuhi kebutuhan air minum.

Warga yang selama ini mengandalkan air hujan terpaksa mencari alternatif dengan membeli air bersih yang didistribusikan menggunakan mobil tangki dari wilayah terdekat. Namun, di tengah meningkatnya kebutuhan, harga distribusi air bersih justru mengalami kenaikan yang cukup drastis. Salah seorang warga Wolonratet, Maria Tali, mengungkapkan bahwa pembelian air tangki menjadi salah satu cara yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama musim kemarau.

“Kami biasanya membeli air tangki. Sejauh ini sudah sekitar 3–4 kali. Ini cukup membantu setidaknya untuk kehidupan setiap hari. Tapi harganya pun tidak stabil. Distributor biasanya mematok harga mengikuti letak wilayah. Semakin jauh dan semakin sulit medannya, maka harganya akan semakin naik,” ujar Maria Maria Tali.

Baca juga: Asap Tebal Selimuti Tanah Grogot, Aktivitas Warga Terganggu Akibat Dugaan Karhutla

Menurut warga, distribusi air bersih ke wilayah tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Akses jalan yang rusak, jarak tempuh yang jauh, serta kondisi topografi yang cukup ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi penyaluran air bersih. Kondisi tersebut membuat warga harus menggunakan air secara hemat dan memprioritaskan kebutuhan yang paling mendesak.

“Kami harus hemat menggunakan air bersih. Mungkin untuk makan dan minum. Untuk keperluan lain, kami masih bisa minta ke tetangga yang punya banyak pasokan air,” tambah Maria.

 

Baca juga: Kendala Kawasan Wisata Alam, Beberapa Titik Kampung Nelayan Sikka Masih Ditinjau Ulang

Di tengah keterbatasan air bersih, solidaritas antarwarga masih terjaga. Sebagian masyarakat juga telah memperoleh bantuan sarana penampungan air berupa bak penampung yang diinisiasi oleh komunitas atau Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO), salah satunya adalah Nusa Tenggara Association. Namun, keberadaan bak penampung belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Ketersediaan sarana penyimpanan air tidak serta-merta menjamin terpenuhinya kebutuhan air bersih apabila pasokan air yang dapat ditampung masih terbatas. Febriana Lilis afriani Sawu, salah seorang warga Wolonratet, mengungkapkan bahwa masyarakat yang telah memperoleh bantuan bak penampung pun masih mengalami kekurangan air. Kondisi tersebut, menurutnya, semakin menyulitkan warga yang belum mendapatkan bantuan serupa.

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru