“Orang yang dapat bantuan bak penampung saja masih kekurangan air, apalagi kami yang tidak dapat sumbangan bak,” ujar Lilis.
Kemarau panjang menjadi tantangan serius bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan curah hujan sebagai sumber air bersih. Dalam situasi tersebut, warga Wolonratet berharap adanya perhatian dan langkah nyata dari pemerintah maupun lembaga sosial untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih. Bagi warga, air bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan dasar yang harus tersedia setiap hari. Keterbatasan air bahkan membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan paling mendasar, terutama untuk minum dan memasak.
“Kami berharap dapat sumbangan air bersih. Semoga pemerintah bisa lihat kami punya keadaan. Untuk minum saja sangat susah. Apalagi yang lain,” tambah Lilis.
Warga berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan distribusi air bersih sekaligus mencari solusi yang berkelanjutan agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau. Selain mengharapkan bantuan, masyarakat juga berharap musim kemarau segera berakhir sehingga ketersediaan air dapat kembali mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Krisis air bersih di Wolonratet menjadi pengingat bahwa persoalan akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan bagi masyarakat di wilayah yang menghadapi keterbatasan infrastruktur dan kondisi geografis yang sulit. Di tengah situasi tersebut, kehadiran pemerintah dan dukungan berbagai pihak sangat dibutuhkan agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara layak.
Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.