PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, KALIMANTAN TIMUR — Asap tebal hampir setiap hari menyelimuti Kota Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Kondisi ini diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang marak terjadi di tengah musim kemarau panjang.
Sejumlah wilayah di Kalimantan Timur dilaporkan mengalami kebakaran, baik di kawasan hutan, perkebunan kelapa sawit milik perusahaan, maupun lahan milik masyarakat. Kepulan asap yang menyebar hingga ke kawasan perkotaan membuat suasana beberapa kota termasuk Kota Tanah Grogot tampak gelap dan disertai bau menyengat.
Kondisi tersebut mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari . Warga yang sebelumnya dapat beraktivitas dengan leluasa kini harus lebih berhati-hati dan menggunakan OPD seperti masker untuk mengurangi paparan asap. Kebiasaan berolahraga pada pagi hari, seperti jogging untuk menghirup udara segar, serta bersantai di taman kota pada sore hari pun mulai berkurang. Sejumlah ruang publik yang biasanya ramai kini tampak lebih sepi karena warga memilih mengurangi aktivitas di luar rumah.
Baca juga: Anggota DPRD Sikka Minta Penataan Tugu Ditunda, Utamakan Kebersihan dan Penerangan Kota
Selain mengganggu kenyamanan, asap yang diduga berasal dari karhutla tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan. Asap kebakaran mengandung partikel halus, seperti PM2,5, karbon monoksida, dan berbagai senyawa berbahaya lainnya. Paparan asap dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan. Pada kondisi paparan berat, risiko gangguan paru-paru dan masalah kesehatan lainnya juga dapat meningkat.
Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah Kabupaten Paser mengarahkan masyarakat dan lembaga terkait untuk menerapkan langkah-langkah perlindungan kesehatan. Sektor pendidikan turut menjadi perhatian. Sekolah-sekolah diinstruksikan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar (KBM) dari rumah sembari memantau perkembangan kondisi udara dan menunggu situasi kembali kondusif.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi paparan asap, terutama bagi anak-anak dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan. Masyarakat juga diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gejala berat lainnya.
Situasi ini menjadi pengingat pentingnya penanganan karhutla secara serius dan berkelanjutan. Upaya pencegahan kebakaran, pengawasan kawasan hutan dan perkebunan, serta perlindungan kesehatan masyarakat perlu berjalan beriringan agar dampak kebakaran tidak semakin meluas.