Film Jungga Jadi Cermin Generasi Z: Tradisi, Modernitas, dan Ancaman Melemahnya Nalar di Era AI

Muhtadi menilai mahasiswa tetap membutuhkan proses membaca, menulis, berdiskusi, melakukan observasi, serta mengalami langsung realitas sosial. Baginya, proses tersebut merupakan bagian penting dalam membentuk kemampuan berpikir dan kedewasaan intelektual.

Ia mengatakan kegiatan tersebut memiliki relevansi langsung dengan mata kuliah yang berkaitan dengan naskah film dan produksi film dokumenter.

“Pertama, kita akan belajar bagaimana membuat sebuah karya atau produksi film. Kebetulan ini mata kuliah Naskah Film dan Produksi Film Dokumenter,” kata Dedi.

Ia mengaku senang ketika mendapat informasi mengenai agenda pemutaran film tersebut karena kemudian dapat memasukkannya ke dalam agenda perkuliahan.

“Saya sangat senang karena diinformasikan untuk pemutaran film ini sehingga kita memasukkan ke dalam agenda kuliah kelas. Di mata kuliah ini kita kedatangan tamu yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurut Dedi, ruang teater di kampus tersebut menjadi ruang yang tepat untuk mempertemukan proses akademik dengan karya audiovisual dan realitas sosial.

Mahasiswa Jangan Hanya Bergelut dengan Teks

Dedi menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada aktivitas membaca teks, menyusun jurnal, dan menghasilkan tulisan akademik.

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru