Mahasiswa juga perlu keluar dari ruang kelas untuk melihat secara langsung kehidupan masyarakat.
“Forum atau acara ini agar mahasiswa atau kampus bukan hanya menggeluti teks atau jurnal, melainkan melihat realitas masyarakat,” katanya.
Ia menilai film Between Tradition and Modernity: The Survival of Jungga Music on Sumba Island memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami kehidupan masyarakat tradisional di Sumba melalui medium film.
“Film ini mengangkat tradisi masyarakat Sumba. Film ini hanya salah satu sarana agar kita melihat kehidupan masyarakat tradisional di pedesaan,” ujar Dedi.
Diskusi tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang musik Jungga, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai hubungan manusia dengan teknologi, keberlanjutan kebudayaan, perubahan sosial, kesehatan mental, serta posisi generasi muda dalam menghadapi modernitas.
Di tengah teknologi yang semakin mampu menghasilkan teks dalam hitungan detik, forum tersebut menegaskan kembali bahwa pendidikan tidak semata-mata tentang seberapa cepat sebuah karya dapat diselesaikan, tetapi juga tentang seberapa dalam manusia mampu berpikir, merasakan, mengalami, dan memahami realitas di sekitarnya.