Film Jungga Jadi Cermin Generasi Z: Tradisi, Modernitas, dan Ancaman Melemahnya Nalar di Era AI

Muhtadi menilai mahasiswa tetap membutuhkan proses membaca, menulis, berdiskusi, melakukan observasi, serta mengalami langsung realitas sosial. Baginya, proses tersebut merupakan bagian penting dalam membentuk kemampuan berpikir dan kedewasaan intelektual.

Muhtadi menilai mahasiswa tetap membutuhkan proses membaca, menulis, berdiskusi, melakukan observasi, serta mengalami langsung realitas sosial. Baginya, proses tersebut merupakan bagian penting dalam membentuk kemampuan berpikir dan kedewasaan intelektual.

Kerinduan pada Interaksi Tanpa Perantara Mesin

Lebih jauh, Muhtadi mengatakan perkembangan kehidupan perkotaan yang semakin cepat justru melahirkan kerinduan terhadap pola interaksi sosial yang lebih sederhana dan intens.

“Kita sebenarnya punya kerinduan untuk interaksi yang intens tanpa mesin atau smartphone,” ungkapnya.

Ia membandingkan dinamika kehidupan perkotaan dengan kehidupan masyarakat di pedesaan. Kehidupan kota, kata dia, bergerak sangat cepat, sementara di desa perubahan berlangsung lebih lambat dan memberi ruang yang lebih besar bagi interaksi sosial serta keberlangsungan tradisi.

“Di kota sangat cepat, tetapi di desa perubahan waktu sangat slow. Mudah-mudahan dengan melihat film ini kita bisa mengaca bagaimana tradisi bisa hidup di tengah modernitas,” katanya.

Menurut Muhtadi, film tentang musik Jungga di Sumba menjadi medium untuk melihat bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan ketika berhadapan dengan perubahan zaman.

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru