Muhtadi menilai mahasiswa tetap membutuhkan proses membaca, menulis, berdiskusi, melakukan observasi, serta mengalami langsung realitas sosial. Baginya, proses tersebut merupakan bagian penting dalam membentuk kemampuan berpikir dan kedewasaan intelektual.
Kerinduan pada Interaksi Tanpa Perantara Mesin
Lebih jauh, Muhtadi mengatakan perkembangan kehidupan perkotaan yang semakin cepat justru melahirkan kerinduan terhadap pola interaksi sosial yang lebih sederhana dan intens.
“Kita sebenarnya punya kerinduan untuk interaksi yang intens tanpa mesin atau smartphone,” ungkapnya.
Ia membandingkan dinamika kehidupan perkotaan dengan kehidupan masyarakat di pedesaan. Kehidupan kota, kata dia, bergerak sangat cepat, sementara di desa perubahan berlangsung lebih lambat dan memberi ruang yang lebih besar bagi interaksi sosial serta keberlangsungan tradisi.
“Di kota sangat cepat, tetapi di desa perubahan waktu sangat slow. Mudah-mudahan dengan melihat film ini kita bisa mengaca bagaimana tradisi bisa hidup di tengah modernitas,” katanya.
Menurut Muhtadi, film tentang musik Jungga di Sumba menjadi medium untuk melihat bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan ketika berhadapan dengan perubahan zaman.