Sebuah kebiasaan yang terus diulang tanpa pernah dievaluasi memang berisiko melahirkan ketidakadilan yang dianggap normal. Namun, meninjau kembali bukan berarti harus langsung menghapus sistem yang ada. Barangkali yang lebih realistis dan mendesak bukanlah menghilangkan status tuan rumah sepenuhnya, melainkan memperkuat pengawasan di sekitarnya sebagai sesuatu yang lebih mungkin dijalankan dengan sumber daya yang tersedia saat ini.
Langkah Kecil yang Bisa Dimulai Sekarang
Ada beberapa hal sederhana yang barangkali lebih realistis untuk segera dipertimbangkan oleh penyelenggara turnamen di tingkat lokal: melibatkan wasit dari luar daerah yang tidak memiliki kepentingan dengan salah satu tim, membentuk tim pengawas independen yang berisi tokoh masyarakat netral, atau membuka ruang bagi tim tamu untuk menyampaikan keberatan secara resmi tanpa takut dianggap “cari masalah”. Langkah-langkah semacam ini terasa lebih mungkin dijalankan dibanding perombakan total sistem penyelenggaraan, sembari tetap menjaga manfaat ekonomi dan sosial yang selama ini dinikmati daerah tuan rumah.
Antara Kekhawatiran dan Kenyataan
Selama uang lebih diutamakan daripada kejujuran, turnamen memang berisiko menjadi sekadar sandiwara. Namun sejauh mana risiko ini benar-benar terjadi secara meluas di NTT, barangkali masih perlu ditelaah lebih jauh sebelum menjadi kesimpulan akhir. Semoga tulisan ini hanya menjadi kekhawatiran yang berlebihan, dan bukan cerminan dari kenyataan yang sesungguhnya dirasakan para pecinta sepak bola Nusa Tenggara Timur.