”Sepak bola adalah olahraga tim, bukan perorangan. Di sini anak-anak tidak hanya belajar teknik dasar—seperti cara menendang, mengoper, dan mengontrol bola dengan benar—tetapi juga belajar membangun kerja sama tim yang solid,” ujar Patrisius.
Ia berharap para guru olahraga dan pendamping dari 17 sekolah yang hadir dapat melanjutkan pola pembinaan teknis dasar ini secara berkelanjutan di sekolah masing-masing.
Dorong Kurikulum Sepak Bola dan Pembinaan Berjenjang
Dukungan penuh juga datang dari legislatif. Ketua DPRD Kabupaten Sikka, Stefanus Sumandi, memandang bahwa pembinaan sepak bola usia dini harus didorong menjadi kebijakan daerah yang terencana jika ingin mengarah pada industri olahraga.
”Perlu ada kurikulum khusus pembinaan sepak bola di sekolah-sekolah yang didukung oleh perencanaan anggaran daerah, termasuk pelatihan berkala bagi guru-guru olahraga agar keterampilan mereka selalu up-to-date,” tegas Stefanus, yang juga berpengalaman sebagai mantan guru olahraga.
Stefanus menyoroti pentingnya pembinaan berjenjang dari tingkat SD, SMP, hingga SMA agar Persami Maumere memiliki supply chain atlet berbakat yang siap berprestasi secara konsisten. Ia juga berpesan kepada para peserta untuk menanamkan jiwa kesabaran dan ketahanan fisik sejak dini.
Menyongsong Pembukaan Soeratin Cup & Pertiwi Cup
Festival sepak bola anak ini menjadi pembuka dari rangkaian ajang sepak bola besar di Kabupaten Sikka. Pasalnya, besok Gelora Samador Maumere disiapkan untuk menggelar pembukaan turnamen bergengsi Pertiwi Cup dan Soeratin Cup.
Selama kurang lebih dua jam, anak-anak dengan penuh keceriaan melahap seluruh materi pelatihan teknis dasar dari instruktur. Pantauan media ini, salah satu pemain sepakbola profesional asal Manggarai, Patrick Domal, turut melatih anak-anak dan Wakil Sekretaris PSSI NTT, Piter Fomeni, juga hadir dalam kegiatan tersebut.