Menurut Romo Mundus, kedatangan Bunda Maria selalu membawa damai, sukacita, syukur, serta pengharapan baru bagi umat yang percaya. Maria, kata dia, tidak pernah meninggalkan anak-anaknya yang sedang menghadapi pergumulan hidup, melainkan selalu hadir mendampingi melalui doa dan kasih keibuannya.
Ia menegaskan bahwa manusia tidak boleh melupakan jasa dan pengorbanan seorang ibu. Dalam kehidupan keluarga maupun kehidupan iman, sosok ibu memiliki tempat yang sangat mulia karena dari rahim seorang ibu setiap manusia menerima kehidupan.
“Harus diingat bahwa kita wajib menghargai seorang ibu, karena dari rahim yang kudus itu kita semua dilahirkan dan mendapatkan kehidupan,” tegas Romo Mundus.
Pesan tersebut mendapat perhatian serius dari umat yang hadir. Dalam kehidupan modern yang semakin sibuk dan individualistis, Romo Mundus mengingatkan pentingnya kembali membangun penghormatan terhadap orang tua, terutama ibu, yang selama ini menjadi sumber kasih, pengorbanan, dan doa bagi keluarga.
Lebih lanjut, ia mengajak umat meneladani pribadi Bunda Maria yang sederhana, rendah hati, setia, dan penuh kasih. Menurutnya, Maria dipilih Allah bukan karena kekuasaan atau kemewahan, melainkan karena ketulusan hati dan kesediaannya melayani kehendak Tuhan.
“Bunda Maria adalah perempuan sederhana yang dipersiapkan dan dipilih menjadi Bunda Tuhan kita. Mari belajar dari sosoknya yang rendah hati, sederhana, dan penuh kasih,” ujarnya.
Refleksi khotbah tersebut menjadi pesan utama dalam perayaan Bulan Maria kali ini. Umat diajak tidak hanya berdevosi kepada Maria melalui doa rosario dan misa, tetapi juga meneladani cara hidup Maria dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun keluarga yang penuh kasih, kesabaran, dan persaudaraan.