Catatan Lepas: Seandainya Pemimpinku Urus Bisnis “Makan Gratis” Saya Kenyang atau Dia Makin Lapar?

Konsep “makan gratis” dalam politik sering kali bukan sekadar soal pangan tetapi juga alat legitimasi kekuasaan. Michel Foucault menyebut bahwa kekuasaan bekerja melalui mekanisme halus termasuk pengaturan tubuh dan kebutuhan dasar manusia.
ILUSTRASI - Pemimpin urus bisnis makan gratis.
Penutup

Jika seandainya seorang pemimpin mengurus bisnis makan gratis, maka persoalannya bukan sekadar siapa yang makan tetapi siapa yang diuntungkan.

Dalam keadaan tanpa konflik kepentingan, rakyat bisa kenyang. Namun jika kekuasaan dan bisnis bercampur maka yang terjadi sering kali sebaliknya: rakyat diberi makan secukupnya, sementara kekuasaan makan tanpa batas.

Akhirnya, pertanyaan retoris itu menemukan jawabannya sendiri: bukan perut rakyat yang makin kenyang, melainkan perut kekuasaan yang makin rakus jika hukum dan etika dibiarkan lapar.

Klik Link Ini Untuk Dapatkan Opini Menarik Lainnya Hanya di PerspektifNusantara.com

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru