Catatan Lepas: Seandainya Pemimpinku Urus Bisnis “Makan Gratis” Saya Kenyang atau Dia Makin Lapar?

Konsep “makan gratis” dalam politik sering kali bukan sekadar soal pangan tetapi juga alat legitimasi kekuasaan. Michel Foucault menyebut bahwa kekuasaan bekerja melalui mekanisme halus termasuk pengaturan tubuh dan kebutuhan dasar manusia.
ILUSTRASI - Pemimpin urus bisnis makan gratis.

Perut Kekuasaan vs Perut Rakyat

Secara metaforis, “perut” dalam konteks ini bukan hanya soal lapar dan kenyang tetapi juga simbol keserakahan dan kebutuhan.

Jika pemimpin menggunakan kekuasaan untuk memperluas bisnisnya, maka “perut kekuasaan” yang kenyang.

Jika kebijakan dijalankan secara adil, transparan dan bebas konflik kepentingan, maka “perut rakyat” yang kenyang.

Namun sejarah menunjukkan, ketika dua perut ini disatukan dalam satu tubuh kekuasaan tanpa kontrol yang terjadi bukan keseimbangan melainkan ketimpangan.

Jalan Etis: Memisahkan Kuasa dan Kepentingan

Solusi filosofis dan hukum sebenarnya jelas: pemisahan antara kekuasaan publik dan kepentingan privat.

Prinsip ini sejalan dengan gagasan rule of law yang menempatkan hukum di atas kepentingan individu.

Pemimpin ideal adalah mereka yang, meminjam istilah Plato, mampu keluar dari “gua kepentingan pribadi” dan melihat realitas secara jernih demi keadilan bersama.

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru