PERSPEKTIFNUSANTARA.COM– Ketika senja kembali menjamu di waktu-waktu romantik, saat itu lagu Amigdala yang berjudul Tuhan sebut sia-sia mengiringi dan mengisi kekosongan tersebut. Kekosongan yang mengundang banyak pertanyaan filosofis atas lagu yang ditulis Andari Jamalina Pratami dan Isa Maula Elfasya. Menariknya bahwa judul ini bukan semata-mata mengungkapkan kelemahan manusia, melainkan mempertanyakan Tuhan itu sendiri. Pertanyaan tentang Tuhan linear dengan menggugat iman dan kepercayaan manusia. Namun, spekulasi itu harus dikaji lebih mendalam atas apa dan mengapa secara hermeneutis.
Dalam memahami lagu tersebut berarti harus mengacu pada proses menangkap makna bahasa atau target yang lebih luas adalah struktur teks dan simbolnya. Di dalam kehidupan sehari-hari, memahami dimaksudkan seperti menangkap makna kata-kata pembicara atau pun juga ungkapan perasaan melalui lagu yang dinyanyikan. Memahami realitas bisa juga secara spontan dan juga dengan mengupayakan. Memahami dengan mengupayakan atau upaya adalah cara membongkar rahasia yang terselebung dalam sebuah kesalahpahaman. Karena itu, memahami kesalahpahaman membutuhkan kaidah-kaidah tertentu.
Memahami berarti juga meneropong ke dalam diri penulis lagu. Memahami bukan sekedar membongkar tampilan luar, melainkan meruntuhkan paradigma yang rapuh. Paradigma yang rapuh itulah akses sebuah kesalahpahaman atas lagu tersebut. Lalu kemudian timbul pertanyaan mengapa Tuhan sebut sia-sia atau sia-sia sebut Tuhan? Basisnya adalah pikiran manusia. Jika Tuhan sebut sia-sia berarti konsekuensinya adalah manusia. Tetapi, jika sia-sia sebut Tuhan adalah cara menggugat iman itu sendiri.
Baca juga: Makan Bergizi Gratis dan Tirani Epistemik
Sebelum lebih jauh, mengungkap kilas balik Tuhan sebut sia-sia. Ada baiknya membongkar secara filosofis atas sia-sia sebut Tuhan. Mengapa harus dibongkar melalui kerangka filosofis, karena sistem berpikirnya metodis, logis, bertata tertib, dan tegas pada fenomena-fenomena yang dialami manusia dalam realitas. Dengan filsafat, daya kritis terus dirawat sehingga tidak mudah menelan mentah-mentah atas disrupsi informasi yang tersebar. Selain itu, filsafat merupakan paradigma yang dibangun untuk mengerti, memahami, mengartikan, menilai, mengeritik data-data dan fakta yang dihasil dalam kehidupan sehari-hari serta dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual.
Menafsir isi lagu Tuhan sebut sia-sia
Lirik lagu Tuhan sebut sia-sia sederhana saja. Dalam kesederhanaan itu, lahirlah sebuah gugatan eksistensial terhadap iman manusia. Demikian ikthisar lirik lagunya; “Aku dingin. Dan kau semakin marak menuang cuka di atas luka. Aku mendakimu jauh sampai patah kaki. Sedang kau mati suri berdendang sendiri. Sejak itu Tuhan sebut kita sia-sia.”
Baca juga: Vox Populi, Vox Dei: Perlukah Suara Rakyat Didefinisi Ulang?
Lirik lagu ini begitu kaya makna apabila ditinjau dari persepsi penikmat sastra. Kekayaan makna lagu ini menjadikannya prioritas pada masa depan untuk memahami sebagai kemampuan ada dalam dunia dan menangkap kemungkinan-kemungkinannya bereksistensi. Memahami juga sebagai akses antisipasi terhadap sesuatu yang belum ada. Memahami lagu ini dalam proses epistemologi, tentu harus mengangkat penghayatan pelaku sosial guna menemukan maknanya. Namun, lagu ini menghantar pada sebuah refleksi filosofis bahwa pada hakikitnya manusia tampil gagah dalam ketelanjangan berpikir sehingga merasa perlu menyembunyikan diri di balik berbagai pemikiran modern transendental. Lebih lanjut, Paul Budi Kleden (2002) dalam bukunya; “Aku yang solider, aku dalam hidup berkaul,” mengungkapkan pemikiran Descartes, Cogito ergo sum: aku berpikir maka aku ada. Berpikir adalah sebuah kepastian eksistensial yang tidak dapat diragukan sebagaimana adanya. Paradigma ini terkesan individualistis tentang manusia seperti aku yang dingin mendakimu jauh sampai patah kaki. Sebuah ungkapan yang mengatakan kalau neraka adalah sesamaku, maka surga adalah diriku, tentang apa yang kupikirkan dan kukehendaki. Sama halnya yang dikatakan Max Frisch sebagaiama dikutip Paul Budi Kleden (2002) mengatakan demikian; “Sebuah kebahagian dialami tanpa memberikan peluang pada kerinduan untuk dimiliki. Kerinduan itu ada dan dibutuhkan tanpa mematikan yang lainnya. Kerinduan yang tepat adalah sebuah kebangkitan daya progresif, mengubah dan memperbaiki pada kekinian. Kerinduan itu mengungkapkannya kepada Allah itu sendiri.”