Menggugat Iman dalam Lagu ‘Tuhan Sebut Sia-sia’

Lirik lagu 'Tuhan sebut sia-sia' sederhana saja. Dalam kesederhanaan itu, lahirlah sebuah gugatan eksistensial terhadap iman manusia. Demikian ikthisar lirik lagunya; “Aku dingin. Dan kau semakin marak menuang cuka di atas luka. Aku mendakimu jauh sampai patah kaki. Sedang kau mati suri berdendang sendiri. Sejak itu Tuhan sebut kita sia-sia.”
Penulis, Anselmus N. Halek. Mahasiswa Semester 5 Prodi Filsafat IFTK Ledalero, Berasal dari Atambua , Tinggal di Unit Santo Arnoldus, Nitapleat.

Namun, lagu ini memantik hermeneutika kecurigaan, untuk menunjukkan keengganan menerima apa saja yang ada dan memupuk rasa curiga terhadap apa yang ditawarkan. Kecurigaan akan lagu ini menuntut orang untuk berpikir sebagai bentuk tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Relevan dengan itu, Kin Wilber mengatakan bahwa tahap perkembangan manusia yang mengarahkan kepada kematangan hidup bermasyarakat sebagaimana yang dikutip Antonio Wahyudi (2023) dalam penelitiannya tentang; “Menyingkap benih-benih intoleransi dalam beragama melalui filsafat ateisme Ludwig Feuerbach” meliputi tiga tahap; Pertama, tahap egocentric yang menekankan pada pusat kesadaran tentang aku. Kedua, tahap sociocentric berarti sebuah kesadaran yang terbuka terhadap orang lain. Namun, kesadaran ini belum matang sehingga tendensinya masih mengarah pada kelompok yang sama. Ketiga, tahap worldcentric berarti sebuah kesadaran terbuka terhadap realitas yang lebih luas melampaui individu dan kelompok relasi. Tahap ini mengubah paradigma dan peradaban dalam kematangan aspek kemanusiaan.

Relasi ketiga tahap tersebut masih timpang sehingga Tuhan sebut kita sia-sia. Kesia-siaan itulah individualistis, sosialis-sukuis dan terbuka terhadap dunia tetapi krisis indentitas. Itulah mengapa lagu itu menjadi kritik terhadap kita yang mati suri terhadap realitas yang dingin dibalik kebutuhan akan kehangatan itu sendiri. Artinya bahwa manusia perlu mengontrol egonya dalam kehidupan sosial-masyarakat. Sebab ego menutup pintu terhadap relasi sosial dan terhadap realitas dunia. Di sini lagu Tuhan sebut sia-sia mengantar kepada sosok kesalehan seperti Ayub. Kesalehan membawa harapan baru. Harapan itu tidak menuntut balas jasa tetapi membiarkan Allah sendiri yang melakukannya.

Sia-sia sebut Tuhan

Lagu ini mendorong naluri untuk memahami aku yang dingin. Sebuah paradoks yang diletakkan di atas dasar kelemahan manusia, sehingga dengan kerapuhan itulah kau menuang cuka di atas luka. Hal ini relevan dengan realitas kehidupan manusia, ketika dingin mencari kehangatan, ketika luka baru ditimbulkan segalanya menjadi tak berarti. Misalnya ketika kehidupan ditimpa berbagai macam persoalan seperti terlilit judi online, perdagangan manusia, kecelakaan, sakit, stres dengan dunia kerja, kematian dan pengalaman traumatik lainnya. Pengalaman ini membuka rasio manusia untuk berpikir kritis akan eksistensi Tuhan. Toh, ketika berdoa terus-menerus segala macam percobaan datang silih-berganti. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa sebenarnya sia-sia sebut Tuhan, sebab segala harapan tak kunjungan ada jawabannya.

Meskipun kita manusia adalah makhluk bertanya termasuk apa pun yang berhadapan dengannya selalu dipertanyakan. Rasa ingin tahu tentang Tuhan melampaui batasan dirinya sendiri. Rasa ingin tahu adalah sebuah keharusan yang diperlukan guna memperoleh pengetahuan sekalipun tentang Tuhan. Ketika manusia tahu, ia akan bertindak untuk memenuhi kebutuhannya. Jika tidak, adalah sebuah kesia-siaan belaka seperti yang ia rasakan. Sampai di sini, pertanyaan tentang Tuhan bukan sekedar angin kosong, melainkan datang dari sebuah kegelisahan rasional manusia. Kegelisahan ini selaras dengan apa yang Magnis Suseno (2006) katakan dalam bukunya “Menalar Tuhan” bahwa tahap pencerahan menjadi basis kritis terhadap agama dan menolak adanya Tuhan. Hal ini dikatakan pula bahwa konsep Tuhan tidak menjadi objek pengetahuan manusia sehingga nalar tidak mengetahui tentangnya. Paradigma ini turut memperkerut situasi untuk menolak penalaran terhadap Tuhan dan menuntut orang yang percaya kepada Tuhan mempertanggungjawabkan imannya secara rasional. Ia bukan hanya bersifat subjektif melainkan juga disampaikan kepada orang lain. Lebih lanjut, Magnis Suseno (2006) katakan bahwa pencerahan adalah masalah hidup dan kerohanian modern. Budi manusia mengusir ke luar semua kepercayaan takhayul atau yang irrasional. Pencerahan juga mengarahkan dirinya ke luar dari ketidakdewasaannya. Di sini rasio manusia merongrong realitas yang tidak bertahan di hadapannya.

Ketika rasio mendominasi, maka segala sesuatu ada dalam kesadaran dirinya. Kesadaran inilah yang mendorong filsuf ateis seperti Feuerbach melontarkan kritik terhadap agama bahwa bukan Allah yang menciptakan manusia, melainkan sebalik Allah adalah ciptaan angan-angan manusia. Pandangan Feuerbach ini menjadikan manusia sebagai objek bagi dirinya sendiri. Jadi, ia memproyeksikan diri ke luar dirinya sendiri supaya dapat menghadap dan melihat hakekatnya. Konsekuensinya adalah bahwa manusia mengakhiri keterasingannya dan menjadi dirinya sendiri. (Suseno, 2006).

 

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru