PERSPEKTIFNUSANTARA.COM– Turnamen futsal Christian Cup I resmi diselenggarakan pada 11/05/2026 di Lapangan Futsal Gelora Samador Maumere. Turnamen ini merupakan turnamen futsal antar klub yang diselenggarakan oleh Anggota DPRD Kabupaten Sikka Fraksi Demokrat, Piet Christian Da Cunha, dan dikuti oleh 25 tim se-Kabupaten Sikka. Piet Christian Da Cunha, selaku penyelenggara, menjelaskan bahwa turnamen Christian Cup I merupakan bentuk pengaplikasian aspirasi masyarakat secara khusus anak-anak muda kabupaten Sikka.
“Turnamen ini dibentuk karena saya sering mendengarkan usulan dan atau aspirasi dari orang muda secara khusus terkait olahraga. Dalam situasi-situasi yang sederhana keluh kesah adalah aspirasi yang urgen yang harus mendapatkan tempat”, Ungkapnya.
Piet Christian Da Cunha juga menegaskan bahwa penyelenggaraan turnamen futsal Christian Cup I juga merupakan bentuk dukungan terhadap perkembangan olahraga di Kabupaten Sikka khususnya di bidang olahraga futsal.
Baca juga: Antologi Puisi ||Erwin Pitang||
“Anak muda Kabupaten Sikka mesti diberi ruang untuk membentuk potensi dirinya. Christian Cup I diselenggarakan untuk orang-orang muda Kabupaten Sikka demi meningkatkan kualitas dan potensi dirinya” Ungkap Christian.
Selain itu, Yosep Nong Sony, selaku ketua PSSI Kabupaten Sikka, yang turut hadir dalam seramonial pembukaan menekankan hal yang sama bahwasanya olahraga di Kabupaten Sikka ini mesti dikembangkan secara terus menerus sehingga melahirkan atlet-atlet yang berkualitas dan memiliki daya saing.
“Di sela-sela kesibukan saya menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan ini karena saya menganggap Christian Da Cunha sebagai adik saya. Kami berdua memiliki komitmen yang sama untuk membangun olahraga di Kabupaten Sikka ini. Christian adalah anak muda yang mau mendedikasikan diri untuk kemajuan olahraga Kabupaten Sikka” tegasnya.
Baca juga: Eks Dirut Bank NTT Divonis 8 Tahun Penjara
Namun Ketua PSSI Kabupaten Sikka yang juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Sikka ini menyoroti watak dan tindakan indisiplin yang sering dilakukan bahkan menjadi kebiasaan para atlet. Ia menegaskan kurangnya rasa respect dari para atlet terhadap penyelenggaran sebuah turnamen dan menjadikan turnamen hanya sekedar olahraga dan kompetisi semata.