Bahkan Untuk Bisa Melihatpun Harus ke Singapura: Kisah Piluh Salah Satu Warga Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka

“Pernah mau operasi di Lela. Dua hari dua malam saya tunggu di sana. Tapi dokter dari Jakarta bilang, bola mata saya harus diganti. Harus operasi di Singapura.” kata Kripianus dengan suara lirih.
Kripianus Yonas Peda bersama Anak dan Istri, Warga Dusun Wukakgahar, RT/RW 011/04, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi bagi Ana, jawabannya menentukan masa depannya. Ia memilih tetap berada di rumah bersama kedua orang tuanya.

Petronela pun menjalani hari-hari dengan peran yang semakin berat. Di usia 60 tahun, ia menjadi mata bagi suaminya sekaligus menopang kehidupan keluarga. Tidak banyak yang mereka miliki selain rumah kecil, tanah tempat berpijak dan harapan agar suatu hari ada pertolongan. Ketika hujan turun, lantai tanah di dalam rumah menjadi becek. Ketika angin kencang datang, dinding pelupuh yang telah lapuk ikut berderak. Namun di tengah keterbatasan itu, keluarga tersebut tetap bertahan. Kripianus tidak meminta banyak. Ia hanya ingin kembali melihat. Melihat wajah istrinya. Melihat anaknya. Melihat dunia yang selama satu dekade hanya dapat ia bayangkan.

“Semoga ada orang baik yang lihat kami,” katanya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari sebuah rumah kecil di Wukakgahar, kalimat tersebut menyimpan persoalan yang lebih besar: bagaimana warga yang hidup dalam keterbatasan dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan, tempat tinggal yang layak dan kesempatan pendidikan?

 

Kisah Kripianus dan keluarganya bukan sekadar tentang seorang lelaki yang kehilangan penglihatan. Ini tentang sebuah keluarga yang perlahan kehilangan banyak hal sekaligus—kesehatan, kesempatan pendidikan, dan kemampuan untuk memperbaiki kehidupan mereka sendiri. Di usia 69 tahun, Kripianus masih menunggu satu hal yang selama sepuluh tahun terakhir belum datang: kesempatan untuk melihat Kembali, dan di sampingnya, seorang anak perempuan masih menyimpan ijazah SMA dalam plastik—sebuah tanda bahwa di rumah yang nyaris tak layak itu, harapan sebenarnya belum mati.

 

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru