Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi bagi Ana, jawabannya menentukan masa depannya. Ia memilih tetap berada di rumah bersama kedua orang tuanya.
Petronela pun menjalani hari-hari dengan peran yang semakin berat. Di usia 60 tahun, ia menjadi mata bagi suaminya sekaligus menopang kehidupan keluarga. Tidak banyak yang mereka miliki selain rumah kecil, tanah tempat berpijak dan harapan agar suatu hari ada pertolongan. Ketika hujan turun, lantai tanah di dalam rumah menjadi becek. Ketika angin kencang datang, dinding pelupuh yang telah lapuk ikut berderak. Namun di tengah keterbatasan itu, keluarga tersebut tetap bertahan. Kripianus tidak meminta banyak. Ia hanya ingin kembali melihat. Melihat wajah istrinya. Melihat anaknya. Melihat dunia yang selama satu dekade hanya dapat ia bayangkan.
“Semoga ada orang baik yang lihat kami,” katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari sebuah rumah kecil di Wukakgahar, kalimat tersebut menyimpan persoalan yang lebih besar: bagaimana warga yang hidup dalam keterbatasan dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan, tempat tinggal yang layak dan kesempatan pendidikan?
Kisah Kripianus dan keluarganya bukan sekadar tentang seorang lelaki yang kehilangan penglihatan. Ini tentang sebuah keluarga yang perlahan kehilangan banyak hal sekaligus—kesehatan, kesempatan pendidikan, dan kemampuan untuk memperbaiki kehidupan mereka sendiri. Di usia 69 tahun, Kripianus masih menunggu satu hal yang selama sepuluh tahun terakhir belum datang: kesempatan untuk melihat Kembali, dan di sampingnya, seorang anak perempuan masih menyimpan ijazah SMA dalam plastik—sebuah tanda bahwa di rumah yang nyaris tak layak itu, harapan sebenarnya belum mati.