“Di Bali lagi ada intimidasi di kampus FH Udayana, almamater saya juga, film ini dipertontonkan lalu mendapat intimidasi dari aparat. (Maka dari itu) salah satu peradaban yang bagus bahwa cara berpikir kita orang Maumere lebih maju daripada di Pulau Jawa, karena kita menganggap bahwa film itu bukan sesuatu hal yang menakutkan,” ungkap Dicky.
Dicky menegaskan bahwa film “Pesta Babi”—serupa dengan karya Watchdoc terdahulu seperti Sexy Killers dan Dirty Vote—adalah produk intelektual berupa karya dokumenter berbasis fakta lapangan, bukan fiksi. Oleh karena itu, segala pro dan kontra yang lahir dari realita sosial sangat patut untuk diperbincangkan di ruang publik secara terbuka.
Kegiatan yang berlangsung hingga larut malam ini diakhiri dengan komitmen bersama dari para peserta untuk terus merawat nalar kritis dan menjaga ruang-ruang publik di Kabupaten Sikka agar tetap merdeka dari segala bentuk pembungkaman.
Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.