Begitulah ironi tentang pagi .
Kamu masih saja bangun dengan kesepian dan kesendirian memungut sisa malam yang membengkak diperonda matamu.
Tapi untuk semuanya adalah alasan terbaik menjadi dewasa dengan belajar bukan.
Aku telah mengambil setetes embun.
Untuk dahaga yang kesepian.
Lalu kuharap Tuhan mengekalkannya dalam kesejukan.
Dan hadirmu yang dingin tak lekas membawa kisahnya pergi.
Tentu kaulah pagi yang kusebut suka menawan rindu.
Si puisi manis.
Aku memiliki seribu pelangi dengan beribu bintang.
Tapi datanglah fajar membuatnya hilang.
Sebab hujan tak ada artinya untuk sekedar menoreh rasa hampa dan malam tak ada untuk sepi yang kuingini.
Tapi adalah saat yang kauingini datang.
Bersama senja yang…
untuk waktu terakhirnya tetap yang terindah.