Pagi
Terhenyak dari mimpi semalam
Ternyata kamu sudah jatuh dalam pelukan dingin yang pilu
Membeku di pelupuk mata
Dan mecair di dedaunan hijau
Meskipun jatuhmu lekas pergi
Tapi ada harap disana
Untuk embun pagi yang setia hadir
Aku yang masih terbaring
Merapalkanmu dalam kata
Dan mengaminkanmu dalam sujud
Untuk pagi yang pergi
Dan sejuk yang tak enggan lepas
Kita adalah amin yang masih disebut
Oleh waktu yang mengabadikannya
Dalam syukur dan khilaf
(Hayalan bertajuk harap)
Air mata
Kita mengemis
Tentang separuh surga yang tersembunyi dibawah telapak nestapa
Lalu jatuhnya kita aminkan
Untuk ketaksempurnaan raga yang hakiki.