PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Malang— Di balik alunan musik dan kemegahan panggung Infinity Harmony 2026, tersimpan kisah perjuangan dua anak yang mengajarkan arti keberanian, harapan, dan kebahagiaan. Faiz dan Akeyla, dua pejuang kecil dengan persoalan kesehatan jantung, hadir dalam pertunjukan bertajuk “Satu Nada Kemanusiaan” di Gedung Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (17/10/2026).
Bagi keduanya, kesempatan tampil bukan sekadar bagian dari pertunjukan seni. Momen tersebut menjadi ruang untuk merayakan keberanian, menikmati kebersamaan, sekaligus membuktikan bahwa setiap anak berhak merasakan kebahagiaan, apa pun tantangan kesehatan yang dihadapinya.
Infinity Harmony 2026 menghadirkan perpaduan orkestra dan teater modern yang tidak hanya menyuguhkan keindahan seni, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kemanusiaan dan inklusivitas. Salah satu pihak yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Yayasan Pejuang Mimpi, yang mendampingi anak-anak dengan beragam kondisi dan tantangan kesehatan.
Kehadiran anak-anak dampingan yayasan menjadi bagian penting dari pertunjukan tersebut. Mereka memperoleh ruang untuk berekspresi, berkarya, dan merasakan kebersamaan tanpa harus didefinisikan semata-mata oleh kondisi kesehatan yang mereka hadapi.
Perjuangan di Balik Senyum
Di balik penampilan yang penuh sukacita, Faiz dan Akeyla menyimpan perjuangan yang tidak sederhana. Keduanya menghadapi persoalan kesehatan jantung, sementara kondisi sejumlah anak dampingan Yayasan Pejuang Mimpi juga mengalami penurunan selama sebulan terakhir akibat perubahan cuaca.
Baca juga: SMKS Yohanes XXIII Maumere Buka Jurusan Kecantikan Pertama di Sikka, Minat Siswa Tinggi
Situasi itu sempat menimbulkan kekhawatiran. Pasalnya, anak-anak telah lama menantikan kesempatan untuk tampil dalam pertunjukan tersebut. Bagi mereka, panggung Infinity Harmony bukan sekadar tempat menunjukkan kemampuan, melainkan juga kesempatan untuk merasakan pengalaman berharga bersama teman-teman.