PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Maumere-Di tengah keterbatasan kemampuan keuangan daerah, Pemerintah Kabupaten Sikka mulai membuat langkah konstruktif untuk membenahi wajah Kota Maumere. Mengatasi keterbatasan tersebut, Pemerintah mulai membuka peluang kerja sama dengan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Kerjasama tersebut akan diharapkan menjadi kolaborasi efektif untuk mengaplikasikan program dan rencana kerja pemerintah. Sejumlah ruang publik dan ikon kota menjadi target dan sasaran utama penataan, mulai dari tugu, taman, hingga kawasan di sekitar Bandara Frans Seda. Pembenahan ini menjadi langkah meningkatkan estetika kota sekaligus memperkuat identitas Maumere sebagai pusat jasa dan budaya di Kabupaten Sikka.
Dikutip dari Florespedia, langkah konstruktif tersebut mulai dibicarakan dalam kegiatan Coffee Morning bersama Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (FTJSL) Kabupaten Sikka di Warung 69, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Madawat, Selasa (6/10/2026). Pertemuan itu melibatkan sejumlah pimpinan perusahaan dan lembaga keuangan, di antaranya Bank BNI Cabang Maumere, Bank NTT, PLN UPK Flores, PLTMG Maumere, PT Pertamina Maumere, dan PT Nindya Karya.
Meski merupakan langkah konstruktif, upaya ini tidak sertamerta direspon dengan baik. Rencana penataan kembali sejumlah ikon Kota Maumere tersebut mendapat perhatian dari banyak kalangan termasuk di antaranya salah satu Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Partai Demokrat, Piet Christian Da Cunha. Piet Christian Da Cunha meminta agar rencana penataan atau perubahan tugu ditunda dan pemerintah daerah lebih dahulu memprioritaskan kebersihan serta penerangan jalan.
Menurut Christian, persoalan yang lebih mendesak dan urgen untuk dibenahi saat ini adalah kondisi kebersihan kota dan minimnya penerangan di sejumlah ruas jalan. Ia menilai penataan tugu bukan kebutuhan paling mendesak dibandingkan persoalan yang langsung dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kota ini sudah bersih dan terang, baru kita menata kota, termasuk tugu,” Ungkap Christian.
Christian menekankan bahwa keluhan masyarakat yang perlu mendapat perhatian adalah persoalan kebersihan dan penerangan jalan, bukan semata-mata tampilan tugu. Karena itu, pemerintah diharapkan mengarahkan anggaran dan dukungan pembangunan pada kebutuhan yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Menghormati Sejarah Tidak Harus Dengan Mengubah Bentuk
Christian juga mengingatkan pentingnya menghormati setiap periode kepemimpinan bupati di Kabupaten Sikka. Menurutnya, pembangunan tugu pada masa pemerintahan tertentu merupakan bagian dari perjalanan sejarah daerah yang patut dihargai. Karena itu, ia berpandangan bahwa pembenahan tugu tidak harus dilakukan dengan mengubah bentuk yang sudah ada. Pemerintah cukup mempertimbangkan pengecatan ulang dan mempercantik tampilannya agar tetap terawat tanpa menghilangkan karakter atau bentuk aslinya.
Baca juga: Tahbisan 13 Imam Baru, Uskup Labuan Bajo: Imam Bukan Penjaga Citra Institus
“kita harus menghormati tiap Bupati pada zamanya. Bangun tugu sesuai masanya. Harusnya dicat ulang saja dan percantik. Bukan dirubah bentuknya” tambahnya.