Lewat Permainan Rakyat, Anak-anak Sikka Pulihkan Luka Pascagempa Bersama Kemenbud RI dan KPOTI

"Senang sekali karena kami bisa bermain permainan yang dulu sering dimainkan dan kini mulai terlupakan. Kami juga bisa menjalin keakraban dengan teman-teman dari sekolah lain," ungkap Yohana Ani Koten, siswi Kelas IX SMP Bina Wirawan yang terlihat sangat antusias bermain engklek dan egrang bersama teman-temannya.
Situasi Kegiatan di Halaman Pusat Jajanan dan Cinderamata (PJC), Kota Maumere, Jumat (23/10/2026) sore.

Ia menekankan pentingnya kembali mengenalkan permainan rakyat kepada anak-anak, di tengah gempuran gawai yang kini mendominasi waktu bermain anak.

“Dulu anak-anak kita tumbuh dengan permainan yang melatih kelincahan, kecerdasan, dan kebersamaan. Kini banyak anak lebih sering menghabiskan waktu dengan gawai. Melalui kegiatan ini, kita ingin mengingatkan kembali bahwa ada cara bermain yang lebih sehat, lebih menyenangkan, dan membuat kita saling dekat satu sama lain,” kata Bupati Juventus.

Harapannya sederhana anak-anak dapat kembali tersenyum, menemukan semangat baru, dan menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam melewati masa sulit ini.
Suasana kebersamaan terasa tak hanya dirasakan oleh anak-anak. Para guru pembimbing pun ikut terlibat, mengenang masa kecil mereka saat bermain permainan tradisional. Bernadetha Nona Ida, guru dari SDI Misir yang membawa 20 siswa kelas V dan VI, mengaku sangat bersyukur anak-anak didiknya bisa ikut serta.

Ia melihat perubahan positif: anak-anak terlihat ceria, teralihkan dari ponsel, dan lebih saling berinteraksi.
“Mereka sangat senang. Semoga ke depan sekolah-sekolah bisa rutin mengadakan kegiatan seperti ini, bahkan menjadikannya bagian dari kegiatan ekstrakurikuler agar permainan rakyat tetap hidup di kalangan anak-anak,” harapnya.

Sebagai penutup rangkaian acara, Bupati Sikka bersama para tamu undangan secara simbolis memutar gasing, menandai dimulainya kegiatan bermain bersama secara resmi. Dalam momen yang penuh kehangatan itu, Bupati juga menyerahkan secara simbolis paket bantuan berisi kotak pensil dan botol minum kepada perwakilan siswa dari Pulau Palue salah satu wilayah yang paling terdampak gempa dan belum bisa hadir langsung di Maumere karena keterbatasan.

 

 

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru