Tahbisan 13 Imam Baru, Uskup Labuan Bajo: Imam Bukan Penjaga Citra Institus
Maumere_ Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, Pr., memberikan pesan tegas dan menohok kepada 13 imam baru yang ditahbiskan pada Sabtu (10/10/2026). Dalam Misa Tahbisan di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Mgr. Maks menegaskan bahwa seorang imam dipanggil bukan untuk menjadi “penjaga citra institusi”, melainkan menjadi penyalur suara profetik di tengah generasi yang jahat.
Dalam homilinya, Mgr. Maks menyoroti tantangan zaman yang semakin bera. Ia mengajak para imam baru untuk berani menentang berbagai kejahatan moral, seperti korupsi, perusakan lingkungan, perdagangan manusia, dan pemujaan terhadap kekerasan.
“Imam bukan penjaga citra institusi. Ia bukan produsen kenyamanan rohani. Ia berdiri di antara Injil dan kenyataan hidup manusia,” tegas Mgr. Maks di hadapan para imam baru yang tampak tertegun mendengar pesan tersebut.
Lebih lanjut, Uskup menjelaskan bahwa posisi ini secara jelas akan menimbulkan ketegangan. Injil akan senantiasa berbenturan dengan kekuasaan, kepentingan, perangkap popularitas, bahkan kenyamanan institusi Gereja itu sendiri. Namun, justru di situlah letak privilese seorang imam, yakni: menyuarakan kebenaran Injil di tengah realitas dunia yang “jahat”.
Misa tahbisan ini mengukuhkan 13 imam baru, yang terdiri dari 12 imam Kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) dan satu imam dari Kongregasi SMM. Mereka adalah RP. Paulus Barekama Tukan, SVD., RP. Bertin Japa, SVD., RP. Didimus, SVD., RP. Carli Ka’u, SVD., RP. Iwad Mara, SVD., RP. Sony Kelen, SVD., RP. Rikardus Diku, SVD., RP. Selestianus Daga, SVD., RP. Yohanes Rudin, SVD., RP. Andy, SVD., RP. Romy Sogen, SVD., serta RP. Novianus Damasus Tolek Kelore, SMM.
Baca juga: Ukir Sejarah Baru, Femy Bapa Resmi Dilantik Jadi Sekda Perempuan Pertama di Sikka
Seruan untuk berbahagia dalam Injil, lanjut Mgr. Maks, bukanlah janji akan hidup yang mudah, melainkan sebuah tantangan nyata bagi ekspresi imamat mereka ke depan.