Menjaga Tradisi di Tengah Generasi Digital
Kehadiran film Jungga menjadi relevan dengan diskusi mengenai posisi kebudayaan tradisional di tengah generasi yang semakin dekat dengan teknologi digital.
Sebelumnya, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Dr. Muhtadi, M.Si., mengingatkan bahwa generasi muda perlu tetap membangun kemampuan bernalar dan berinteraksi secara langsung di tengah perkembangan teknologi dan AI.
Sementara Dr. Dedi Fahrudin, M.I.Kom., menilai film tersebut dapat menjadi medium bagi mahasiswa untuk tidak hanya berkutat dengan teks dan jurnal akademik, tetapi juga melihat realitas masyarakat secara langsung.
Dalam konteks itulah, film tentang Jungga menjadi lebih dari sekadar dokumentasi musik. Ia menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan modernitas, antara ingatan masyarakat dan generasi baru, serta antara teknologi dengan pengalaman manusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan mesin.
Jungga pada akhirnya bukan hanya soal bagaimana sebuah alat musik dimainkan. Ia merupakan jejak kebudayaan yang menyimpan kisah, keyakinan, relasi sosial, perjuangan, cinta, dan perjalanan hidup masyarakat Sumba—dan film ini berupaya memastikan jejak tersebut tidak hilang ditelan zaman.