Titi melihat perkembangan zaman dan modernisasi membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat, termasuk terhadap kebudayaan lokal.
Menurutnya, perubahan tersebut berpotensi menggeser tradisi yang selama ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Sumba.
“Dengan berkembangnya zaman, modernisasi ini akan menggeser kebudayaan masyarakat Sumba. Jadi dengan hadirnya film ini, saya mau mempertahankan musik Jungga agar tetap diwariskan,” ujarnya.
Bagi Titi, Jungga tidak dapat dipandang semata-mata sebagai sebuah alat musik. Di dalamnya terdapat pengetahuan, pengalaman, nilai, sejarah, serta ingatan kolektif masyarakat Sumba yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Musik ini bukan hanya sekadar alat musik, melainkan mewariskan tradisi dan suasana mistis,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dalam kehidupan masyarakat Sumba, Jungga memiliki makna yang lebih luas. Musik tersebut dapat hadir dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat.
“Jungga bisa menjadi sarana pemersatu, mempertahankan jodoh, pembawa kedamaian, mengangkat kisah perjuangan, dan perjalanan hidup masyarakat Sumba,” tutur Titi.