Hal ini diakibatkan rumah-rumah tersebut benar-benar tidak dapat digunakan lagi sekalipun hanya untuk sekedar beristirahat .
“Kebetulan rumah kami sangat berdekatan sehingga kami panggil untuk tidur disini. Tapi ada juga yang menginap di tempat lain, di rumah keluarga dekatnya,” tutur salah seorang pemuda kepada media.
Kejadian yang menimpah beberapa warga ini sudah ditindaklanjuti oleh pihak pemerintah desa dan sudah ditangin secara struktural oleh pihak-pihak berwenang seperti Dinas Sosial dan BPBD. Bantuan sosial sudah diberikan. Rumah-rumah terdampak perlahan dibangun.

“Meskipun sudah ditangani oleh pemerintah tetapi kami merasa punya hati untuk membantu mereka dan kami yang tergabung dalam grup Megu Mo’ong akan terus memantau dari jauh dinamika sosial yang terjadi di Iantena secara khusus dan apabila ada ha-hal yang perlu dibantu, akan kami bantu dan semoga sumbangan yang diberikan dapat digunakan dengan baik. Kami juga meminta maaf, baru bisa memberikan sedikit untuk bapak mama sekalian,” tambah ketua group Megu Mo’ong Iantena tersebut dalam wawancara singkat via telefon.
Distribusi sumbangan tahap kedua ini dilaksanakan oleh kelompok Pemuda Peduli Iantena yang dikoordinasi oleh Mauritsius Moat Pitang dan Maria Da Enci.
Ditemukan di sela-sela pendistribusian sumbangan, Maria Da Enci bertutur bahwa distribusi sumbangan berasaskan prinsip keadilan bahwa keadilan bukan tentang jumlah atau besaran yang sama tetapi sesuai dengan kebutuhan korban. Di sisi lain Mauritsius Moat Pitang melihat kepedulian para perantau ini bak ‘emas murni jatuh di gubuk tua Iantena’.
“Ini merupakan niat besar untuk orang-orang kecil. Ibarat emas murni tana rantau jatuh di tengah-tengah gubuk tua Iantena,” ungkapnya.